oleh

Ini Arti Nama Soro’ako dan Tawaki Versi Sejarah Heroik Rongkong Abad Ke VI M

MATARAKYAT_LUTIM -Sebagian orang tentu belum mengetahui apa arti sebuah nama Soro’ako dan Tawaki yang terletak di wilayah Kecamatan Nuha dan Kecamatan Wasuponda, Kabupaten Luwu Timur.

Menurut sejarah versi heroik Rongkong, yang merupakan Daerah pegunungan yang terletak di wilayah Kabupaten Luwu Utara.

Kala itu, pada abad ke VI Masehi melalui tulisan Alm. D Pakondongan Tandigau ( Tomakaka Lompo Rongkong) dengan julukan Sendana Lalong Sumpu Langina, yang di rilis Parlindungan Tandigau yang merupakan Putra Alm Tomaka, menjelaskan bahwa, pada abad pertengahan ke VI Masehi Luwu Kuno zaman Batara Guru, dengan pusat kerajaan saat itu bernama Pennensawuni yang terletak disekitar danau Matano, Kecamatan Nuha dan Towoti saat ini.

Kemudian saat itu digantikan dengan putranya bernama Batara Lettuilau serta permaisurinya bernama We Opu Sengngeng ( Datu Sangga) dari kerajaan Tompotikka, menurut sebutan To Lalaki yang merupakan kerajaan kuno (Luwu-red) dan besar pada zaman itu.

Sementara Pada zaman Dynasti Sawerigading Kerajaan Luwu Kuno pada saat memerintah atau berdiri selama lima generasi dan berakhir sekitar abad ke IX semua generasinya Tillele atau di artikan kembali ke alam Dewa.

Akibatnya, Luwu timbul masa gelap, dimana sana sini terjadi kekacauan, hingga perang antar Suku, begitu pula Daerah bekas pusat kerajaan Luwu Kuno sudah diduduki serta dikuasai oleh To Lalaki.

Tampak Alm. Tomaka Lompo Rongkong D. Pakondongan Tandigau, saat diarak pada acara Adat.

Dilanjutkan dalam tulisannya mengatakan, namun pada abad awal ke XII muncul gelombang ke dua To Manurung di Luwu yaitu Sumpuru Siang (Zaman Pembaharuan) dengan Permaisuri Patiang Jala dari Tampo Tikka.

Sementara sejarah nama Soro’ako yang telah berganti nama di tahun 1990 an menjadi Sorowako Kecamatan Nuha dan wilayah Tawaki Desa Balambano Kecamatan Wasuponda.

Menurutnya, bahwa wilayah ini merupakan bekas Kerajaan Luwu kuno yang diduduki To Lalaki setelah terjadi peperangan antara kerajaan To Lalaki dan kerajaan Luwu di mana kerajaan Luwu hampir tak berdaya kala itu.

Namun, dengan bantuan Suku Rongkong akhirnya Daerah bekas Kerajaan Kuno disekitar danau Matano dapat di rebut kembali oleh suku Rongkong yang jumlahnya sedikit dibanding pihak To Lalaki.

Terjadi pertempuran ini antara orang Rongkong dan To Lalaki, dengan semangat dan tekad semangat kepatriotan mengadakan sumpah atau ikrar menyatakan, ” Soro’ako” arti bebasnya pantang mundur atas pertempuran sengit dalam artian memukul mundur pihak lawan.

Sehingga pihak lawan dalam hal ini To Lalaki dikeluarkan dari wilayah sekitar danau Matano serta sekitar lainnya dan diduduki oleh Rongkong sebagai Wilayah Tawaki (kepunyaan ta/hak ta, milik ta atau Tawata/ki).

Setelah itu, Daerah tersebut sampai saat ini kini telah didiami oleh generasi Rongkong secara turun temurun, hal ini di buktikan terdapat peninggalan sejarah yakni gunung di wilayah tersebut yang di beri nama Buntu To Rongkong.

Penulis: Zhakral | Editor: Red.

Komentar

News Feed