oleh

Serangan Balik Hary Tanoe ke Jaksa Agung

MATARAKYAT_JAKARTA, – Akibat mulut badan bisa binasa, kiasan ini mungkin tepat menggambarkan “Perang” antara pengusaha media Hary Tanoesudibyo dengan Jaksa Agung M. Prasetyo yang menyebut Ketua Partai Perindo itu tersangka pengancaman lewat SMS. Bareskrim lalu memverifikasi bila kasus ini masih dalam penyelidikan.

Beberapa hari lalu, Jaksa Agung M. Prasetyo mengumbar pernyataan bila Hary Tanoe telah menjadi tersangka atas laporan pengancaman lewat SMS terhadap seorang Jaksa  bernama Yulianto. Tentu, pernyataan ini tidak diterima pihak Tanoe sebab kasus ini masih berada diwilayah penyelidikan dan belum dilakukan gelar perkara untuk menentukan status hukum Hary Tanoe.

Harry Tanoesoedibjo yang diwakili oleh kuasa hukumnya, Adi Dharma Wicaksono melaporkan Jaksa Agung M. Prasetyo ke Bareskrim Polri terkait pernyataan Jaksa Agung yang disebut Adi mencemarkan nama baik Hary Tanoe.

“Kedatangan saya ke sini untuk melaporkan Jaksa Agung M. Prasetyo yang disinyalir telah mencemarkan nama Harry Tanoe. Di mana yang bersangkutan mengatakan klien saya sebagai tersangka, padahal itu bukan kewenangan Jaksa Agung,” kata Adi.

Pernyataan Prasetyo tersebut sangat berbahaya dan telah melanggar kewenangan prasetyo sebagai Jaksa Agung. “Sesuai pasal 109 KUHP, yang berhak memberikan SPDP adalah Polri, bukan jaksa agung sehingga dinilai ada kriminalisasi terhadap klien saya di sini,” katanya.

Selain itu, Adi menyebutkan ada beberapa barang bukti yang digunakan untuk melakukan pelaporan ini. Di antaranya adalah artikel, rekaman audio dan video yang merekam pernyataan dari Prasetyo. Laporan Adi tertuang dalam laporan polisi nomer LP TBL/ 427/ VI/ 2017/ Bareskrim dan dalam laporannya, Prasetyo dilaporkan telah melanggar uu ite pasal 27 jo 45 jo 310 311 KUHP.

Dalam pemberitaan di berbagai media Jaksa Agung M. Prasetyo diberitakan menyebut Hary Tanoe telah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan SMS kaleng yang dikirimkan ke Jampidsus Yulianto. Dasar ucapan Jaksa Agung yakni SPDP yang dikirimkan Bareskrim terkait bos MNC Group itu.

Sementara pihak Bareskrim Mabes Polri menyatakan  Hary Tanoesudibjo hingga saat ini masih berstatus saksi dalam kasus dugaan ancaman. Hary Tanoe diduga mengirimkan pesan singkat bernada ancaman kepada Kepala Subdirektorat Penyidik Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Kejaksaan Agung, Yulianto.

“Ya sampai saat ini masih berstatus saksi,” kata Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Mabes Polri, Kombes Martinus Sitompul, saat dikonfirmasi. Ditambahkan Martinus bahwa saat ini laporan Yulianto masih dalam tahap penyelidikan, bukan penyidikan. Sebanyak tiga belas orang sudah diperiksa terkait kasus tersebut.

“Dalam proses penyelidikan ini penyidik mengumpulkan informasi sebanyak mungkin, yang saat ini sudah 13 orang saksi yang diperiksa termasuk didalamnya ahli untuk kita ambil keterangannya​,” ujar Martinus.

Lanjut dijelaskan, pihaknya baru akan melakukan gelar perkara pada pekan depan. Gelar perkara dilakukan untuk menentukan apakah kasus tersebut bisa naik ke tahap penyidikan. “Kalau sudah penyidikan artinya bahwa perbuatan itu adalah perbuatan melawan hukum sebagaimana diatur di dalam Undang-Undang yang kemudian proses penyidikan itu kami akan tentukan nanti siapa tersangkanya,” kata dia.

Kasus dugaan pesan singkat bernada ancaman yang diduga dari Harry Tanoe, mencuat pada akhir Januari 2016. Ketika Kasubdit Penyidikan Tipikor Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Yulianto melapor ke Bareskrim Polri.

Seperti diketahui, Yulianto menyebut Harry Tanoe mengirim tiga pesan yang dinilai mengancamnya pada awal Januari 2016. Saat pesan itu sampai kepadanya, Kejaksaan tengah menyidik kasus dugaan korupsi yang melibatkan Harry Tanoe sebagai saksi.

Namun, pihak Harry Tanoe membantah pesan singkat tersebut untuk mengancam. Melalui Hotman Paris, pengusaha media itu menjelaskan, pesan itu adalah janjinya untuk membersihkan institusi hukum.

Liputan  : Isio Libran  | Editor  : Akbar

Komentar

News Feed