oleh

Harga Lada Terjun Bebas, APLI Lutim Lakukan Kungker, ini Penjelasannya

-Daerah-1.032 views

MATARAKYAT_LUTIM – Petani lada di Kabupaten Luwu Timur menghadapi masalah cukup serius yakni, anjloknya harga produksi yang sangat signifikan, dari Rp 130 ribu perkilo menjadi Rp 60 ribu perkilo, saat ini.

Oleh sebab itu, petani lada yang tergabung dalam Asosiasi Petani Lada Indonesia (APLI) Lutim melakukan kunjungan kerja ke Bandar Lampung sekaligus Kementerian Pertanian dan Kementrian Perdagangan RI, baru-baru ini.

Hal ini di pimpin langsung Ketua APLI Lutim, Amran Syam serta di ikuti Dinas Pertanian, Kades serta petani lada.

Amran Syam selaku Ketua APLI Lutim yang juga Ketua DPRD mengatakan, APLI telah menyelesaikan satu tugas program yaitu study banding bersama Pemda Lutim melalui Dinas pertanian perdagangan, kebeberapa Provinsi Lampung untuk shering atau diskusi di kantor Dinas perdagangan Prov Lampung yang dihadiri pihak Dinas perkebunan Lampung para pengusaha lada eksportir serta Asosiasi lembaga mengurusi lada, ungkapnya melalui pesan WhatsAppnya, minggu (16/07/17).

Tak sampai disitu kata Amran, kunjungan juga dilanjutkan ke Kemetrian pertanian dan kementrian perdagangan untuk mendengar dan meminta pihak Pemerintah RI melalui Dinas perdagangan agar segera melakukan agenda, dalam rangka kembali menormalkan harga lada. Tentunya, lada di Indonesia terkhusus di Lutim harus terkelolah secara baik tanpa pupuk yang mengandung zat kimia dan lain-lain, tandasnya.

Lanjutnya, pada prinsipnya program ini banyak memberikan pengalaman kepada Pemda Lutim khususnya Dinas terkait, Kepala Desa, Penyuluh pertanian dan kelompok tani lada, pada masalah harga lada yang sementara turun, katanya.

“Insya Allah, pihak Kementerian Pertanian dan Kementrian perdagangan akan memberi dukungan penuh ke Luwu Timur dalam pengembangan pembinaan harga brand lada Towoti yang berkualitas. Tak hanya itu, pihaknya akan mengucurkan anggaran nantinya,” ujarnya.

Anjloknya harga lada menurut Amran Syam, atas pengaruh globalisasi dunia, dimana lagi Vietnam dengan produksi nya yang melebihi target, sehingga memainkan harga, disamping kualitas lada yang diproses dengan SDM teknologi pupuk organik sterilisasi. Hal ini, mafia lada Vietnam memproses dalam Indonesia, khusus pengusaha dan petani lada Indonesia, paparnya.

Dampaknya, terang Amran, jangankan di Lutim di Lampung saja anjlok, sampai ke 60 persen, sepeti terjun bebas, bebernya.

Ditambahknnya, yang paling penting adalah, kerja keras, SDM, pengawasan, pengelolaan, perwatan lada, agar berhasil, guna meraih barokah dari Allah SWT amin.”Semua bersimpuh di keribaanNya, sentuhan dan restuNya, kunci Amran.

Liputan: Zhakral | Editor: Akbar Karca.

Komentar

News Feed