oleh

Di Towuti, APLI dan Pemda Lutim Bahas Hasil Study Banding Petani Lada

-Daerah-1.332 views

MATARAKYAT_LUTIM – Menindak lanjuti dari hasil study banding petani lada yang tergabung dalam Asosiasi Petani Lada Indonesia(APLI) serta jajaran pemerintah kabupaten Luwu Timur baru-baru ini, di Lampung dan Jakarta dalam rangka pertemuan Kementerian Pertanian dan Perdagangan RI.

Maka dilakukan pembahasan hasil study banding petani lada, Kamis (20/7/17) pukul 10.00 Wita, di aula kantor kecamatan Towuti.

Dihadiri, Alimuddin Nasir, Camat Towuti, Herdinang, anggota DPRD Luwu Timur, Erwin Sera, Staf Kementerian PUPR, H.Zakaria, Staf ahli pembangunan kabupaten Luwu Timur, Bahrun, Wakil ketua APLI, beserta jajaran SKPD dan kepala desa.

Drs.Alimuddin Nasir, dalam sambutannya, diharapkan seluruh hadirin agar menyimak hasil-hasil Study banding yang dipaparkan, agar sekiranya bisa memahami apa kendala dan solusi yang perlu ditempuh dalam menghadapi jeritan petani lada belakangan ini terkait anjloknya harga lada dari Luwu Timur saat ini, tuturnya.

Semantara, Herdinang S.Ag selaku pendamping Study banding saat itu, mengutarakan item yang perlu dibahas sekiranya harga lada Luwu Timur,Indonesia pada umumnya bisa kembali bersaing dipasaran.

Dijelaskannya, anjloknya
harga lada kita disebabkan faktor kualitas dan hasil produksi petani lada kita, sehingga kita nantinya bisa bersaing dengan Negara-Negara penghasil lada terbesar seperti Vietnam yang saat ini sebagai penentu harga lada ekspor Eropa.

Kajian utama adalah, menentukan brand atau nama dagang lada kita yang menjadi ciri khas produk. Kualitas lada ditentukan oleh indikator geografis, proses perawatan pertumbuhan lada yang dengan menggunakan sistem organik demi kualitas lada, proses perendaman agar kandungan lada terjaga, uacapnya.

“Adapun pasaran lada bisa bersaing tak luput dari usaha pemerintah, seperti pengembangan usaha, sistem resi gudang, pengadaan kebun induk,menfasilitasi perdagangan serta penataan kawasan yang layak digarap petani,” ujar Herdinang.

Legislator partai Demokrat ini juga menambahkan, sebenarnya komoditi lada Luwu Timur lebih berkelas dibanding Bangka Belitung, sisa penanganan tingkat produksi dan ekspornya saja yang perlu diperbaiki.

Menurutnya, bagi saya jika kualitas lada bisa diperbaiki otomatis investor semakin banyak menawar produk kita, investor juga tidak berani berinvestasi jika hasil produk kita bertentangan dengan aturan pemerintah, paparnya.

Dicontohkannya, daerah sebrang danau Towuti itu, dilaporkan kebun lada sekitar 5000 Ha, sedangkan faktanya sudah diatas 10 ribuan hektar. Kebun induk sebagai syarat produk lada akan diposisikan di Desa Pekaloa sebanyak 8 Ha. Untuk brand atau merek dagang lada kita di beri nama White Paper Towuti, imbuhnya.

Senada dari itu, Zakaria, Staf ahli perekonomian dan perdagangan  kabupaten Luwu Timur mengatakan, pengelolaan lada kita perlu perhatian khusus, dimana hasil pertanian ini bisa menunjang perekonomian daerah berada di urutan kedua dari pertambangan kabupaten Luwu Timur khususnya. Jika nantinya bisa di upayakan kita memiliki pabrik pengolahan lada karena lada bisa menjadi kontribusi yang sangat baik untuk Luwu Timur, tuturnya.

Sementara itu, Bahrun Abidin, Wakil ketua APLI menjelaskan, sebab anjloknya harga lada atas pengaruh panasnya produk lada, Vietnam dengan produksi nya yang melebihi permintaan pasar Eropa sehingga memainkan harga, disamping kualitas lada yang diproses dengan SDM teknologi pupuk organik yang baik, sehingga berdampak pada harga lada di Indonesia. yang paling penting adalah, kerja keras, SDM, pengawasan, pengelolaan, perawatan lada, agar berhasil, kualitas bisa bersaing di pasar ekspor, pintanya.

Ditambahkan Erwin Sera, staf Kementerian PUPR mengatakan, infrastruktur merupakan roda penggerak pertumbuhan ekonomi. Fasilitas transportasi memungkinkan orang, barang, dan jasa yang diangkut dari satu tempat ke tempat yang lain di seluruh penjuru dunia.”Perannya sangat penting baik dalam proses produksi maupun dalam menunjang distribusi komoditi ekonomi.” ketusnya.

Masih dikatakannya, telekomunikasi, listrik, dan air merupakan elemen yang sangat penting dalam proses produksi dari sektor-sektor ekonomi seperti perdagangan, industri dan pertanian.

Lanjutnya, keberadaaan infrastruktur akan mendorong terjadinya peningkatan produktivitas daerah. Survey data statistik, dari beberapa aspek pendukung akan dikaji lebih dalam lagi dan sarana dan prasarana yang sementara terealisasi agar di genjot pelaksanaannya, tutupnya.

Liputan: Harding | Editor: Zhakral.

Komentar

News Feed