oleh

Dua Tahun Kepimpinan Husler-Irwan, LPPMI Nilai Perkembangan Lutim Lamban

MATARAKYAT_LUTIM – Tak terasa kepimpinan Husler-Irwan telah dua tahun menahkodai kabupaten Luwu Timur yang bertajuk Bumi Batara Guru.

Namun disayangkan perkembangan disinyalir lamban khususnya di jantung ibukota kabupaten yakni Malili, hal ini diungkapkan Direktur Eksekutif Lembaga Pemerhati dan Pemberdayaan Indonesia, Saiful Ramang, SH kepada Matarakyatmu.com, Minggu (13/08/17).

Lanjutnya, seharusnya pimpinan darah sebagai pucuk kepimpinan selaku komando pergerakan daerah ini tegas terhadap jajarannya dan kreatif untuk menata ibukota kabupaten, ujarnya.

Dicontohkan Saiful, kita amati kota Malili di malam hari, sebagian lampu hias peninggalan Irman Yasin Limpo sebagai krateker Bupati Lutim kala itu, sudah banyak tidak berfungsi alias padam, belum lagi taman ‘sayang’ sebagai icon perkantoran pemerintahan daerah tampak kumuh, berbagai fasilitas tak terawat, sehingga ketika di malam hari tampak gelap gulita dan tidak menarik rasa untuk mojok.

“Kalau taman ‘sayang’ dibiarkan begitu saja ditakutkan hanya menjadi tempat prostitusi para kaula muda nantinya, sementara hampir dikatakan masyarakat Lutim khususnya Kota Malili haus akan tempat hiburan,” ucap Saiful.

Itu disebabkan kata Saiful, karena ketidak kreatifnya Bapeda serta ketegasan pimpinan dalam menata daerah ini. Nah’ kalau ini dibiarkan berlarut-larut yakin dan percaya tidak ada investor akan bertandang di Lutim kalau kondisi seperti ini.

Masih dikatakan Saiful, tidak perlu melakukan yang besar-besar, biar kecil kita berbuat yang penting nampak,”masa tiap tahun hanya tergaung hanya lagi lagi proyek, giliran pemberdayaan masyarakat kecil hanya bergerak lamban, begitu halnya pembangunan,” katanya.

“Setiap saat orang mengatakan, yang mana si’ ibukota kabupaten, itu artinya pemerintah segera sigap untuk segera memunculkan ke permukaan dan menata ibukota kabupaten ini,” pinta Saiful.

Menurutnya, dari arah Desa Laskap sebagai batas kota dan Ussu ditata dengan baik sebagai pintu masuknya ibukota kabupaten, seperti halnya bantaran sungai Malili harus ditata, untuk menonjolkan icon atau wajah ibukota kabupaten. Namun, yang ada saat ini poros dari arah Laskap ke Malili tampak kiri dan kanan hutan ditambah lagi gelap, tidak ada kemistri yang menarik. Sementara untuk bantaran sungai Malili masih kumuh sehingga tidak ada daya tarik pengunjung ketempat tersebut setiap saat, bebernya.

Ia menambahkan, Luwu Timur ini kaya akan sumber daya alamnya, baik disisi pariwisata dan lain-lain coba lah pemerintah daerah memanfaat kan hal ini, selain kebutuhan masyarakat juga sekaligus sumber pendapatan daerah. Oleh sebab itu pemerintah dalam hal ini Bupati dan Wakil Bupati jangan kaku dalam mengambil kebijakan untuk kemaslahatan orang banyak khususnya daerah ini, terangnya.

“Saya berharap pemerintah daerah betul-betul membuka mata, untuk langkah-langkah apa saja yang seharusnya mereka lakukan, agar visi misi daerah ini dapat terwujudkan membawa Luwu Timur terkemuka,” tutupnya.

Liputan: Harding | Editor: Zhakral.

Komentar

News Feed