oleh

Over Loading Masalah Utama Penataan Lalu Lintas Angkutan Barang

-Aneka-1.169 views

MATARAKYAT-MAROS, Kecelakaan tunggal terjadi pada hari sabtu tanggal 19  Agustus 2017 diruas jalan Maros – Makassar pada pukul 06.45. Wita tadi (19/8). Kali ini menimpa sebuah truk tronton atau dikenal dgn nama truck deck.

Truck ini hanya dilengkapi dengan plat dasar  tanpa dinding samping dan dimuati dengan container 20 feet, kendaraan ini dimodifikasi untuk bisa mengangkut container.  Kejadiannya bermula ketika   truck Deck memuat container berisi semen  sejumlah 480 Zak ( 50 kg/Zak) atau muatan 24 ton melaju dari arah maros ke makassar, tepat kurang lebih 100 meter sebelum  Jembatan Timbang Maccopa.

Pengemudi kehilangan kendali akibat menghindari pejalan kaki dan ban depan kanan pecah yang mengakibatkan per depan patah dan menabrak pembatas jalan (median) dan tiang lampu penerangan jalan hingga truck terguling dan container jatuh melintang diatas jalan.

Akibatnya kemacetan parah,  untuk mengevakuasi kendaraan dan container terpaksa petugas mendatangkan alat berat eskapator.

“Saya mau menghindari pejalan kaki tapi karena muatan berat dan tiba tiba bannya meletus akhirnya tidak bisami saya kendalikan dan akhirnya menabrak dan terbalikmi mobil dan muatannya “kata sopir saat ditemui di Jembatang Maccopa.

Utung tidak ada korban jiwa jadi hanya menimbukan kemacetan, tambah Rusli petugas jembatan timbang  yang sempat menyaksikan kejadian .

Kepala BPTD  wil. XIX SulSelBar, Benny Nurdin yang ditemui usai kejadian  mengatakan bahwa over loading sudah menjadi masalah utama, dan seolah pengusaha angkutan barang dan pemilik  barang  tidak bisa lagi keluar dari masalah ini.

Padahal harusnya, lanjut mantan pejabat Dishub Sulsel ini, mereka tahu dampak negatif yg timbul karena disamping dapat merusak jalan alias mempercepat kerusakan jalan juga akan mempercepat kerusakan kendaraan dan berujung pada terganggunya kinerja lalu lintas jalan  dan dapat menimbulkan kerugian materil dan jiwa.

” Coba kamu bayangkan seperti apa  kejadiannya seandainya container tersebut menimpa pengguna jalan lainnya, saya yakin pasti menelan korban jiwa, Ujar Benny.

Lanjut benny mengatakan bahwa ini sudah harus dikenakan sanksi  pidana karena menggunakan kendaraan yg tidak sesuai peruntukannya dan tidak memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan.

Berdasakan PM 14 tahun 2007 tentang Kendaraan Pengangkut Peti Kemas Di Jalan, diatur bahwa angkutan peti kemas harus menggunakan Head Traktor atau dikenal dengan nama trailer atau kendaraan penarik dengan kereta tempelan yg sebagian beban muatannya ditumpuk oleh kendaraan penariknya, jadi bukan truck deck atau tronton.

Kalau seperti ini sambil menunjuk truck yyang diparkir  di halaman Jembatan Timbang sangat berbahaya karena menanggung beban yang besar dengan daya mesin yg tidak sepadan.

“Apalagi muatannya berat (24 ton) belum lagi berat kendaraan dan containernya yang sudah pasti tidak kurang antara 14 ton.

Jadi kalau di jumlah maka berat totalnya semua 38 ton padahal kendaraan dengan jenis ini hanya memiliki GVW/JBB antar 21 ton sampai 26 ton yang JBI atau jumlah yg diizinkan berdasarkan perhitungan daya angkut dengan kelas jalan dl MST 8 Ton tidak boleh melebihi 21 ton.

Lebih jauh dijelaskan, artinya kelebihan muatannya sudah pasti berkisar  antara 10 ton sampai 16 ton   kata benny yg juga mantan  ketua Ikatan penguji Kendaraan bermotor Indonesia  Sulselbar 2 periode.

Ditemui terpisah pemilik kendaraan mengaku hanya menempel di salah satu ekspedisi di kawasan pelabuhan. dan kendaraannya mendapat sewa per trip atau 1 kali jalan dari Pabrik semen Bosowa ke Pelabuhan Rp.800.000,-  dan hanya  dpat hasil bersih Rp. 350.000, karena dikurangi sama perongkosan Rp. 450.000, termasuk biaya solar dan sopir.

” Saya kasian cuman dapat 350 ribu pak, belumpi lagi kalau ada masalah di jalan, sepertimi  ini, pasti tidak jalanmi beberapa hari sementara saya harus bayar cicilan di bank ujar rahman sang pemilik kendaraan usai ditemui di halaman Jembatan Timbang.

Menanggapi hal ini, Benny menyatakan jika hal ni perlu dibicarakan dan dicari solusinya, karena tarifnya  hanya sekitar Rp.334 per kg. ini khan perlu disesuaikan alias azas keadilan. Memang selama ini pengakuan pemilik barang dan mengaku rugi kalau barangnya dimuat sesuai daya angkut di buku uji.

Sehingga untuk mencukupi ongkos dan keuntungan harua memuat 2x lipat bahkan lebih. Hal ini juga harus dicek, jangan jangan hanya karena pingin hitung besar lalu berdalih seperti itu kata Benny.

Makanya, ujar Benny, menyikapi persoalan ini benny akan mengundang stakholder tetkait termasuk pengusaha dan pemilik kendaraan barang agar bisa duduk bersama dan nantinya sama sama mau menyadari dampak dari ovet loading. Kami tidak ingin masalah ini berakhir di Jembatan Timbang, harusnya angkutan barang sebelum beroperasi dj jalan sudah tahu dampak dari muatannya, jadi di Jembatan Timbang hanya mengawasi muatan dan persyarayan teknis dan laim jalannya.

“Coba bayangkan kalau semua kendaraan barang yg melintas di JT dengan kelebihan muatan 10 sampai 20 ton bahkan lebih, berapa lama antrian dan betapa banyak tenaga dan gudang yg disiapakan untuk menurunkan dan menampung barang dari kelebihan muatan tersebut,” ujar Benny.

Liputan : BN

Komentar

News Feed