oleh

JOIN Sulsel : Salah Kaprah Soal Ambulance dan Mobil Jenazah

MATARAKYAT-BULUKUMBA, Kasus wafatnya keluarga Mappi, warga Kajang yang harus ditandu dengan sarung berjarak lima kilometer, keliru jika menyalahkan pihak Puskesmas setempat bisa jadi tak punya mobil jenazah.

Kasus ini memantik kepedulian pengurus JOIN Sulsel berkaitan pemberitaan media ciber. dan sikap Bupati Bulukumba mencopot Kepala Puskesmas Kajang. Sebelum menjatuhkan “vonis” pada paramedis di Puskesmas Kajang, sebaiknya pemerinta terkhusus jurnalis online hingga kasus ini viral di Medsos, disarankan  lebih meningkatkan pemahaman jika mobil Ambulance, bukan mobil jenazah, tidak bisa mengangkut mayat.

“Warga yang meninggal dunia hanya bisa diangkut oleh mobil jenazah biasanya dikuasai oleh Dinas Sosial,” ujar Ketua JOIN Sulsel, Rifai Manangkasi  saat dimintai komentar.

Hal ini ikut dibenarkan dibenarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provensi Sulsel bila warga memang harus membedakan mana mobil ambulance dan kendaraan jenazah.

Mobil ambulance, kata Dr. Rahmat tidak boleh sembarang dipergunakan maupun ditumpangi sebab di dalam banyak memuat perlengkapan medis.

Dr. dr. Rahmat memberi contoh ambulance dengan ruang operasi. “Siapapun tak boleh dirawat di ruang operasi dalam kondisi apapun. Masuk saja pakai sendal maka ruang operasi itu tidak boleh dipergunakan selama satu Minggu,” ujarnya.

Berkaitan kasus yang dialami keluarga Mappi dan sempat menjadi tranding topik beberapa situs berita disarankan pengurus JOIN Sulsel  seharusnya pemerintah daerah Bulukumba dan daerah lain, selain mengadakan kendaraan ambulance juga perlu mobil jenazah hingga kasus Kajang ini tidak salah kaprah.

Liputan : Noya

Komentar

News Feed