oleh

“Mappatoppo” Tanda Syukur Haji

Oleh: Andi Zhulkarnain.

Di beberapa daerah di Indonesia dikenal dengan istilah wisuda haji. Bagi masyarakat Sulawesi Selatan khususnya masyarakat Bugis yang melaksanakan ibadah haji mengenalnya dengan istilah “mappatoppo”. Tidak banyak sumber bacaan yang menjelaskan kapan istilah ini muncul dan mulai di praktekkan oleh sebagian orang bugis yang menunaikan ibadah haji.

Sebelum berangkat menuju Arafah untuk melaksanakan wukuf, sebagian calon jemaah haji yang satu rombongan dengan saya sudah mengingatkan niat mereka untuk mappatoppo. Mereka meminta supaya di carikan sayye’ atau sayyid atau syech di masjidil haram yang menurut mereka sayye’ ini yang mengukuhkan haji secara turun temurun. Logika sederhana saya pendapat mereka bahwa tidak mungkin syech yang dimaksud itu masih hidup sampai sekarang, karena yang namanya manusia pasti hidupnya akan berakhir. Untuk mencari keturunan keturunannya, bagaimana cara mencarinya?

Berbagai argumentasi mereka keluarkan, sayapun selalu mencari alasan untuk menghindar supaya ritual yang tidak termasuk rukun, wajib, dan sunnah haji ini tidak perlu dilakukan. Akhirnya saya melunak dan membuat kesepakatan diantaranya bahwa syech yang di maksud adalah orang arab yang diyakini memiliki ilmu agama yang mumpuni dan tentunya rajin beribadah. Kesepakatan lain adalah waktu ritual ini dilaksanakan yaitu selepas tahallul awal atau selepas tahallul akhir. Karena kami bersama semua jemaah haji yang berasal dari Luwu Timur mengambil nafar tsani sehingga semua tahapan tahallul awal di selesaikan di Arafah dan Mina dan selebihnya setelah masuk Kota Mekkah. Artinya, proses Mappatoppo ini boleh dilakukan di Mina setelah tahalul awal yaitu setelah melontar jumratul aqobah hari pertama selesai. Kembali muncul masalah kecil yaitu dimana kita cari orang arab yang shaleh di Mina sementara di maktab rombongan kami, hanya jemaah haji asal Indonesia yang jumlahnya ribuan. Orang arab yang ada di maktab hanyalah petugas maktan yang mengurusi masalah makanan, akomodasi dan transportasi. Kesepakatan baru muncul yaitu mappotoppo boleh orang Indonesia asal mengerti tentang mappatoppo, dikenal bagus ibadahnya dan bukan pertama kalinya naik haji. Ini juga bukan masalah mudah bagi saya karena mesti mencari orang yang tepat. Soalnya di maktab kami tentu tidak semua memenuhi syarat tersebut. Khususnya yang memahami ritual mappatoppo. Karena ini adalah budaya haji Bugis, tentu yang pertama saya hubungi adalah jemaah orang Bugis pula yang kira kira memenuhi semua syarat tersebut.

Saya mengantongi dua nama. Nama pertama adalah salah satu ketua rombongan dari papua. Beliau sudah haji sebelumnya, sering memberikan arahan-arahan kepada semua jemaah dan ibadahnya bagus. Yang kedua juga jemaah dari Papua, kelihatan lebih senior dari orang pertama, kebugisannya sangat kental dan di awal awal pemberangkatan sudah mengeluarkan sedekah yang tidak sedikit. Tentu saya harus mendekati satu persatu untuk mencari tahu apakah mereka mau jadi “professor” mengukuhkan jemaah haji dengan cara mappatoppo. Orang pertama mengaku paham dan kenal budaya mappatoppo, akan tetapi mengatakan bahwa hal tersebut tidak perlu dilaksanakan dan sudah mulai ditinggalkan oleh sebagian besar jemaah haji asal daerah Bugis karena tidak masuk rukun haji, wajib haji atau sunnat. Kesimpulan saya bahwa orang pertama yang saya dekati ini tidak melarang tapi tidak pula menganjurkan tapi bisa menjadi “professornya”. Selanjutnya saya mendekati orang kedua dan mulai bisik bisik tentang mappatoppo. Beliau yang memang supel tidak berpanjang lebar dan menegaskan bahwa mappatoppo memang budaya akan tetapi bila ada jemaah haji yang mau di patoppoi, beliau paham dan siap membantu dan sering mewisuda jemaah haji dengan cara mappatoppo. “Professor” sudah ada.

Setelah tahallul awal selesai di Jamarat Mina, semua jemaah haji memotong rambut sebagai simbol selesainya tahallul awal dan kembali ke tenda. Banyak yang mengatakan bahwa mereka sudah haji walau belum sempurna, artinya mappatoppo sudah bisa dilaksanakan. Enam orang jemaah menyatakan sudah siap di wisuda. Tempat wisudanya di tenda sang professor. Jemaah yang akan di patoppoi sudah mempersiapkan segalanya mulai dari mandi bersih, memakai pakaian baru, sampai pada membawa sarung baru yang disiapkan dari tanah air.

Karena penasaran tentang proses mappatoppo ini, saya merekam satu persatu tahapannya dan ternyata tidak rumit, sangat sederhana dan hanya membutuhkan waktu yang singkat. Tuan guru atau yang mewisuda duduk bersila dan yang mau di patoppoi duduk bersila di depannya dengan jarak yang dekat sehingga lulut mereka hampir bersentuhan. Tuan guru mengambil minyak wangi dan mengusapkan di telapak tangan orang yang mau di wisuda kemudian memanjatkan doa dan diamini oleh orang didepannya. Setelah itu sorban dipasangkan, lalu dipasangkan songkok haji warna putih lalu berdoa kembali. Selesai. Sisanya proses jabat tangan dan penyerahan selembar sarung dari orang yang di patoppoi kepada tuan guru sebagai ucapan terima kasih. Selanjutnya jemaah lain maju dengan proses yang sama sampai kami bersama enam orang yang sudah memakai songkok putih meninggalkan tenda tuan guru.

Sampai di tenda kami, jemaah yang baru di wisuda tersebut kelihatan sangat bergembira, saling berpelukan dan meneteskan air mata tanda kebahagian. Begitu pentingkah proses ini bagi mereka sampai meneteskan airmata tanda kegembiraan? Tidak ada bedanya ketika siswa sekolah menerima buku rapor dan naik kelas.

Tugas saya selesai, selanjutnya beberapa jemaah melakukan ritual mappatoppo tanpa saya fasilitasi lagi. Bahkan adapula jemaah di wisuda oleh “professor” yang lain. Rasa penasaran saya semakin bertambah.

Setelah sampai di Mekkah, saya mencoba mencari referensi tentang mappatoppo ini melalui google, tidak banyak referensi yang menjelaskan hal ini. Saya mencoba cari tahu dari orang-orang di hotel yang mudah saya temui. Kebetulan di depan lift lantai dasar, pemilik hotel (orang arab) yang kebetulan bisa berbahasa Indonesia walau patah patah. Ketika saya tanyakan tentang wisuda haji langsung dia balik bertanya apakah saya orang Bugis atau Jawa? Tentu saya kaget dengan pertanyaan itu. Orangnya memang ramah, mudah bergaul dengan semua penghuni hotel, ringan sapa pokoknya. Dia menjelaskan bahwa Orang Bugis dikukuhkan hajinya dengan cara mengganti songkok lama dengan songkok putih dan sebagian Orang Jawa dikukuhkan dengan cara mengganti nama atau menambah nama belakang. Hebatnya lagi, pemilik hotel tersebut mengaku tiap tahun mengukuhkan beberapa jemaah haji asal Bugis dan Jawa yang menginap di hotelnya.

Penjelasan pemilik hotel rasanya tidak lengkap sebelum ada penjelasan dari ahli agama. Melalui WhatsApp, saya menghubungi dua orang yaitu ustads yang memimpin zikir sewaktu wukuf di arafah dan satunya lagi adalah kyai di tanah air (Luwu Timur). Orang pertama menyatakan wisuda haji murni adalah kebiasaan yang tidak ada hubungannya dengan syariat islam. Boleh dilakukan asalkan tidak mengarah kepada kemusyrikan, tidak boleh menganggap tidak sah haji bila tidak di wisuda (Bugis=Mappatoppo) karena sah tidaknya haji tergantung rukun dan manasik sesuai tuntunan Rasulullah. Orang yang mewisuda dan waktunya harus tepat. Pendapat yang lebih “keras” lagi dari kyai di Luwu Timur. Beliau bilang menyatakan Mappatoppo adalah budaya dan kalau perlu tidak usah dilakukan tapi beliau serahkan kepada yang bersangkutan dan beliau juga menghimbau supaya luruskan niat ibadah kepada Allah semata.

Perasaan saya mulai ragu dan saya tidak mau ikut berdosa siapa tahu saya terlibat dalam hal yang sifatnya sia-sia. Saya menemui orang orang yang saya fasilisitasi kegiatan mappatoppo. Hampir semua sepakat bahwa mappatoppo sebagai tanda syukur setelah proses haji selesai, doa bersama semoga haji diterima dan di doakan oleh orang alim dan ahli agama. Wallahu a’lam.

Editor: Zhakral.

Komentar

News Feed