oleh

Gerakan Literasi Sekolah “Digugat” BAK. Ini Penyebabnya?

MATARAKYAT-MAKASSAR | Bertepatan di hari Literasi Internasional, 8 September 2017, Penggagas Gerakan Indonesia Membaca dan Menulis, Bachtiar Adnan Kusuma kembali menggugat Gerakan Literasi Sekolah yang dicanangkan Kementerian Pendidikan, pada 2016 lalu.

Pasca pencanangan GLS secara nasional, gaung gerakan menumbuhkan literasi sekolah seolah-olah redup. Padahal APBN telah mengakomodinir meluncurkan anggaran di setiap sekolah percontohan Literasi sebesar Rp 125 juta, namun gaung dan arahnya tidak lagi kedengaran.

Menurut Sekjend Asosiasi Penulis Profesional Indonesia ini, mestinya sasaran gerakan literasi sekolah tak hanya fokus pada siswa siswi, tapi paling penting guru guru dan kepala sekolah harus menjadi contoh yang baik.

” Siswa siswi disuruh membaca setiap hari, tapi guru guru dan kepsek tidak ikut membaca buku, kan ironis. Dan inilah yang saya sebut pseudo literasi,” lanjut BAK. Artinya, gerakan literasi hanya sebatas liv service, tapi implementasi di lapangan tak ada.

Guru dan kepsek panutan utama menumbuhkan literasi di setiap sekolah. ” Kita butuh figur guru dan kepsek yang gemar literasi mestinya muncul di setiap sekolah,” harap Sekretaris Komite SMA 17 Makassar ini.

Nah, memperingati Hari Literasi dunia, kami menggugat kembali para kepsek kiranya mendukung penuh sekolah sebagai bagian dari gerakan literasi. Sekadar diketahui bahwa beberapa SMA dan SMP di Sulsel menjadi sekolah percontohan literasi, di antaranya SMA 17 dan lainnya.

Liputan : Noya

Komentar

News Feed