oleh

Kungker Kejati, Kades Se Lutim Kumpul di Aula Rujab Bupati

MATARAKYAT_LUTIM – Pertama kali, Kepala Kejaksaan Tinggi Negeri (Kejati) Sulselbar Jan Samuel Maringka beserta petinggi Kejati lainnya menggelar kunjungan kerja di kabupaten Luwu Timur, Rabu (13/09/17).

Kedatangan tersebut di sambut hangat Bupati Lutim HM Thoriq Husler dan di dampingi Idha Komang Ardhana Kajari Malili, Kapolres Lutim AKBP Parojahan Simanjuntak dan Simon Martes Pabung TNI.

Sebelum melakukan agenda pelatakan Batu pertama pada pembangunan mushola di halaman kantor Kejari oleh Kejati Sulsel serta Muspida, Kejati dan rombongan lakukan agenda tatap muka bersama seluruh kepala desa di Lutim. Selain itu, turut hadir kepala SKPD, camat serta para undangan.

Pada kesempatan itu Bupati Lutim HM Thoriq Husler menyampaikan rasa terima kasih atas kunjungan Kejati Sulselbar serta rombongan serta menjelaskan historis Luwu Timur bertajuk Bumi Batara Guru.

“Kami sangat senang atas kunjungan pak kejati beserta rombongan, semoga kunjungan kali ini bukan hanya kali pertama dan terakhir tetapi seterusnya,” ucapnya.

Tak hanya kata Husler, semoga kunjungan kali juga membawa dampak angin segar atas pembangunan di daerah ini serta semakin erat terjalinnya silaturahmi atas pemerintah daerah dan penegak hukum dalam hal ini Kejari, harapnya.

Sementara itu Kejati Sulselbar Jan Samuel Maringka dalam sambutannya mengatakan, penegak hukum beserta pemerintah daerah harus membangun silaturahmi sebagai satu kesatuan dalam mewujudkan perkembangan daerah demi masyarakat, ungkapnya.

Lanjutnya, penegak hukum hadir bersama pemerintah bukan berdiri pada posisi akhir, tetapi bagaimana hadir paling di depan bersama-sama menggagas mengawal pembangunan serta mendampingi pemerintah untuk memajukan daerah ini dengan tepat waktu, serta meningkatkan kesadaran hukum masyarakat, ujarnya.

Khususnya dana desa salah satu ikon proyek yang menjadi stimulan untuk percepatan pembangunan. Konsepnya sama, kita punya program TP4D tentunya kita harapkan kedepan untuk bersama-sama, tandasnya.

“Kemarin tidak ada instrumen dan petunjuk bagaimana pelaksanaanya, ibaratnya program ini pernah di uji coba di dunia pendidikan yang dinamakan BOS dan lain-lain, kalau mereka duduk sebagai dunia pendidikan atau kepala desa tidak terlatih sejak awal, bagaimana mendesain suatu program perencanaan, karena memang tidak diberikan keahlian untuk itu,” papar Jan S Maringka.

Ia menambahkan, nah’ kalau ada kerja sama dan komunikasi yang baik. Kalau tidak, mereka berfikir ada uang, apa yang bisa saya lakukan, sementara dana hampir Rp 2 Milyar pertahun kalau itu dapat di distribusi dengan baik maka, akan terjadi percepatan pembangunan yang luar biasa, tutupnya.

Liputan: Harding | Editor: Zhakral.

Komentar

News Feed