oleh

Benarkah, Buku Menawarkan Kehidupan Baru?

Jujur kami mengakui, Indonesia tak bisa dipungkiri sebagai bangsa yang belum gemar membaca dan masih saja berada di nomor urut sepatu jika dibandingkan minat baca negara-negara lainnya. Sebagai bangsa yang jumlah penduduknya terbesar keempat di dunia, kita masih berada di urutan 69 dari 76 negara yang memiliki kemampuan membaca siswanya masih rendah.

Posisi kebiasaan dan kemampuan membaca siswa di Indonesia masih lebih rendah jika dibandingkan Vietnam yang menduduki urutan 12 dari total negara yang disurvei.

Benarlah apa yang dikemukakan seniman Austria, Franz Kafka bahwa buku harus menjadi kampak untuk menghancurkan lautan beku dalam diri manusia.
Adapun lautan beku yang dimaksud Franz adalah kebodohan manusia. Kebodohan manusia hanya mampu dihancurkan dengan membaca buku. Bukankah hanya dengan membaca buku bisa menghancurkan kebodohan manusia?

Lalu, mengapa minat baca rendah? Minat baca rendah karena adanya efek domino. Misalnya saja, anak-anak akan lebih gemar menonton daripada membaca buku. Sahabat mereka bukan lagi buku, tapi televisi.

Ironisnya lagi, mereka lebih memilih mall atau bioskop daripada menghabiskan waktunya di perpustakaan. Anak-anak kita nyaris waktunya habis di depan TV sekitar 30-35 jam dalam sepekan. Artinya, setahun anak-anak kita menonton di depan televisi sekitar 1.600 jam.

Padahal kata pepatah, buku adalah gudangnya ilmu pengetahuan. Dan, perpustakaan gudangnya buku. Perpustakaan adalah “maha gudangnya” ilmu. Kendatipun, kita seksamai bersama bahwa kondisi perpustakaan sekarang betul-betul menjadi gudang ilmu.

Kondisinya memang persis gudang, berantakan dan berdebu. Celakanya, minim pengunjung dan lebih tepat disebut “museum buku”. Di dalamnya banyak barang-barang antik, usang dan tak terawat. Buku-buku seperti kitab-kitab dari zaman Majapahit, kertasnya sudah menguning dan berlapis debu tebal.

Berkiblat pada pernyataan Dauzan Farouk bahwa senjata melawan kebodohan adalah buku. Selain buku jendela dunia karena hanya dengan buku, maka berbagai ilmu pengetahuan ada di dalamnya. Buku adalah jantungnya pendidikan.

Namun, ironisnya, Indonesia dengan jumlah penduduknya terbesar 240 juta jiwa hanya mampu menerbitkan buku baru pertahun sekitar 24.000 dengan rata-rata cetak perjudul sekitar 3.000 eksemplar.

Artinya buku baru pertahun beredar hanya sekitar 72 juta. Padahal UNESCO menetapkan bahwa satu orang minimal membaca tujuh judul buku baru pertahun. Sementara di Indonesia satu judul buku baru dibaca empat orang. Jelaslah, Indonesia berada diurutan ke-60 sebagai salah satu negara paling terendah budaya membacanya dari 65 negara.

Mengapa tradisi literasi kita masih saja rendah? Dalam buku The Accelerated Learning Handbook menyebutkan bahwa sesungguhnya buku adalah alat utama mengobati penyakit yang muncul dalam proses pembelajaran di era sekarang ini.

Jadi buku tak sekadar sebagai komoditas belaka, tapi lebih dari itu buku adalah alat yang menambah ilmu pengetahuan.Morley menegaskan bahwa buku sesungguhnya bukanlah kumpulan kertas, tinta dan lem, melainkan menawarkan sebuah kehidupan baru.

Karena itu, dibutuhkan figur orang tua yang pandai memilih bacaan bagi anak-anaknya. Mengapa orang tua sulit memilihkan bacaan anaknya? Pertama, orang tua kurang pengalaman tentang sebuah buku-buku baru. Kedua, kurangnya pengalaman membaca bagi orang tua.

Ketiga, kurangnya kesungguhan dalam mengerjakan kedua faktor di atas. Orang yang doyan membaca buku menaruh perhatian pada berita dan informasi tentang sebuah buku. Caranya, mereka suka membaca resensi buku-buku baru yang setiap pekan diturunkan di berbagai media nasional dan lokal.

Dengan membangun tradisi membaca 15 menit setiap hari di perpustakaan sekolah dan di setiap rumah bisa menjadi ikon gerakan sosial yang memassal terutama menjadikan membaca buku sebagai life style. Kuncinya dimulai dari rumah tangga, pada tingkat terendah di setiap RT dan RW harus ada ruang-ruang baca masyarakat. Sekali lagi dibutuhkan figur orang tua dan pemimpin yang gemar membaca buku.

Para bupati dan walikota menjadi garda terdepan terutama menjadi contoh dan ikon membaca masyarakat di setiap kota dan kabupaten yang dipimpinnya. Intinya, kita butuh figur Gubernur, Walikota dan Bupati yang gemar membaca buku.

Nah, mestinya kita berterima kasih kepada Tsai Lun yang telah berhasil mengubah istana Dinasti Tang menjadi sebuah markas intelektual pertama di negeri Tiongkok. Disinilah pertamakali buku ditulis dengan menggunakan kulit hewan atau dikenal dengan istilah cangkang kerang. Namun, beberapa abad kemudian tepatnya abad ke-14, seorang pandai besi dari Jerman, Johannes Gutenberg berhasil menciptakan mesin cetak pertama kali di dunia. Dengan ditemukannya mesin cetak, sesungguhnya telah merevolusi kebudayaan manusia dari barbar menuju budaya beradab.

Sesungguhnya kertas tak sekadar hiasan, tapi menyimpan memori dan pengetahuan yang dahsyat. Hanya dengan apa yang ditulis dikertas, maka sejarah orang-orang terdahulu bisa kita pelajari dengan membaca buku-buku. Contoh, tentara Dinasti Abbasiyah dalam sebuah perang berhasil menawan beberapa pembuat kertas Tiongkok.

Mereka mendemonstrasikan kemampuan mereka dalam membuat kertas. Kertas kemudian dikenal dalam peradaban Islam. Industri kertas diciptakan penguasa-penguasa Islam kemudian menyebar ke seluruh dunia. Awalnya, bangsa Eropa kemudian bangsa-bangsa lain di dunia. Karena itu, buku di era digital masih saja tetap bertahan. Selain mudah, murah juga aksesnya bisa diperoleh di mana-mana.

*Bachtiar Adnan Kusuma
Penggagas literasi dan gerakan membaca nasional.

Komentar

News Feed