oleh

Warga Desa Olaya Tewas di Tangan Oknum Polisi

MATARAKYAT-PARIMO- Warga Desa Olaya, Kecamatan Parigi, Kabupaten Parimo, yang diketahui bernama Jufri (50), diduga tewas ditangan oknum anggota Polisi, beberapa jam setelah dilakukan penangkapan dirumahnya, Selasa, (10/10).

Dugaan keluarga korban tersebut berdasarkan luka memar yang terdapat dibeberapa bagian tubuh korban, dianggap tidak wajar.Istri korban, Rosmin (35), yang ditemui sejumlah media di rumahnya, Rabu (11/10) mengatakan, pada Selasa malam rumahnya didatangi oleh kurang lebih enam orang anggota buser Polres Parimo, sekitar pukul 23:00 Wita.

Kedatangan buser tersebut jelasnya, bermaksud untuk menangkap suaminya yang saat itu berada dirumah. Anehnya kata dia, ketika penangkapan dilakukan, anggota Buser tersebut tidak membawa surat penangkapan, dan tidak memberitahukan kasus apa yang menjerat suaminya.

“Kalau tidak salah sekitar enam orang, mereka datang mau menangkap suami saya. Suami saya sempat bertanya, kenapa saya mau ditangkap Pak? Polisi itu bilang, sudah, nanti dikantor Polisi saja. Akhirnya suami saya ikut naik dalam mobil milik buser itu,” jelas Rosmin.

Beberapa jam setelah penangkapan tersebut dilakukan kata Rosmin, sekitar pukul 03:00 Wita, Rabu (11/10) dini hari, Kepala Desa Olaya mendatangi rumahnya untuk menyampaikan informasi, bahwa suaminya telah meninggal dunia.

Berdasarkan keterangan Kepala Desa kata dia, suaminya meninggal dunia saat mencoba melarikan diri ketika anggota Buser melakukan intrograsi di jembatan jalur dua Desa Pombalowo, Kecamatan Parigi. Namun, setelah melihat kondisi jenazah yang penuh dengan luka memar dibeberapa bagian tubuh, pihak keluarga tidak serta merta menerima hal itu.

“Pak kepala desa bilang suami saya sudah meninggal. Saya tanya kenapa, katanya melompat dari jembatan Bambalemo saat melarikan diri. Saya bilang tidak mungkin, karena saya liat suamiku duduk di posisi tengah, diapit oleh dua orang polisi, mana mungkin bisa loncat.

Dari keterangan polisi, katanya tidak melompat saat mobil jalan, tapi mobil sempat berhenti dan dilakukan intrograsi, ketika itu suami saya melompat ke jembatan,” kata dia.

Selain itu tambah Rosmin, visum yang dilakukan oleh pihak kepolisian juga terkesan diam-diam tanpa memberitahukan pihak keluarga. Sehingga, jenazah Jufri kembali dibawa ke RSUD Anuntaloko Parigi oleh pihak keluarga, namun permintaan visum kembali ditolak oleh pihak rumah sakit karena tindakan tersebut tidak dapat dilakukan dua kali.

Rosmin menilai, meskipun ada kemungkinan suaminya bersalah, namun tindak kekerasan tersebut tidak seharusnya dilakukan, sehingga pihak keluarga menuntut keadilan terkait apa yang dialami oleh suaminya.

“Tubuh suami saya penuh luka memar, yang paling parah dibagian belakang. Kalau sesuai keterangan polisi, saat jatuh posisi suami saya tengkurap. Harusnya kondisi jenasah tidak seperti ini. Kami minta keadilan, makanya kami minta dilakukan visum kembali untuk mengetahui apa yang sebenarnya dialami suami saya saat penangkapan itu,” tandasnya.

Sementara itu, Waka Polda Sulteng, Kombes Pol M. Aris Purnomo, kepada sejumlah media pada saat di rumah duka mengatakan, pihaknya tidak berkeberatan jika pihak keluarga akan mencari keadilan, karena merasa keberatan dengan kondisi jenazah.

Bahkan, pihaknya sempat menyarankan kepada pihak keluarga untuk melaporkan hal itu ke Komnas HAM.
Pihaknya juga akan melakukan penyelidikan untuk mencari tahu kebenarannya.

Jika dikemudian hari terbukti yang bersalah adalah anggota Polisi, pihaknya berjanji akan mengambil tindakan yang tegas. “Kami akan proses kalau bersalah, bisa saja hingga pemecatan. Yang pasti kami akan melakukan penyelidikan untuk mencari tahu kebenarannya,” tandasnya.

Pihak keluarga yang awalnya akan memakamkan almarhum Jufri Rabu sore, membatalkan rencana tersebut. Sebab, jenazah dibawa ke rumah sakit Bayangkhara Polda Sulteng, guna diotopsi untuk mencari pasti penyebab kematiannya.

Liputan : Andi Baso Hery

Komentar

News Feed