oleh

DPO Teroris Menyerahkan Diri ke Densus 88, Begini Kronoligisnya

-Daerah-1.952 views

MATARAKYAT, NTB | Imam Munandar, warga Penatoi, Kecamatan Mpunda, Kota Bima, buronan Detasemen Khusus (Densus) 88/Antiteror Mabes Polri, terduga teroris yang selama ini buron akhirnya menyerahkan diri. Sabtu (04/11/17)

Imam menyerahkan diri kepada Densus 88 diantar oleh salah seorang anggota keluarganya. “Betul, tadi saya dapat laporan dari wilayah. Betul ada itu (Imam Munandar) menyerahkan diri” ujar Wakapolda Nusa Tenggara Barat (NTB) Kombes Pol. Tajuddin saat dikonfrimasi di Mapolda NTB, radarlombok.co.id Jumat (3/11) kemarin.

Setelah menyerahkan diri, dia selanjutnya akan dibawa ke Jakarta untuk dilakukan pengembangan oleh Densus 88. “Hari ini (kemarin) kita bawa langsung ke Jakarta untuk diperiksa disana. Sekarang sedang dalam perjalanan” katanya.

Dalam kurun waktu sepekan, Densus 88 sudah menangkap 12 orang terduga teroris. Dua diantaranya tewas tertembak dalam baku tembak di pegunungan Oi Sarume Dusun Mawu Dalam Desa Mawu Kecamatan Ambalawi Kabupaten Bima, Senin 30 oktober lalu.

Dengan demikian, pencarian Densus 88 terhadap keberadaan Imam Munandar yang disebut-sebut sebagai pelaku penembakan personel Polres Bima Kota 11 September 2017 berakhir sudah.

Menurut Tajuddin, Imam Munandar ini adalah pentolan dari Jamaah Ansarut Daulah (JAD). Keberadaan JAD di Bima diyakini sudah lama berdiri. “Kalau menurut saya itu kelompok Imam Munandar. Kalau memang yang ditangkap ini adalah Imam Munandar, berarti benar kelompok itu,” ungkapnya.

Menurut Wakapolda, tertangkapnya cukup banyak terduga teroris ini adalah hal yang bagus. “Tambah banyak jaringannya yang diungkap, tambah bagus nanti. Tambah bagus kan daerah kita tambah aman. Tidak ada rasa takut dan was-was. Ini kita lagi cari jaringan sampai ke akar-akarnya,” katanya.

Ia menegaskan, selama jaringan terduga teroris ini belum habis, maka aparat tetap akan melakukan pengejaran. Dengan adanya penangkapan itu, dipandang baik terhadap penegakan hukum. “Karena mereka pasti akan menyebutkan keterlibatan si A, B atau C. Semua yang disebut itu nanti akan kita ambil (tangkap) semua. Tambah cepat jaringannya terungkap. Itu makin bagus” tegasnya.

Polisi juga akan melakukan pembinaan terutama pada kantong-kantong warga yang memiliki pemahaman radikal. Namun jika diketahui masih ada yang terlibat, polisi tetap menindaki. “Di negara ini tidak boleh gerakan seperti itu. Kita ini negara Pancasila. Siapa yang melanggar aturan negara ya itu berlawanan dengan hukum, ditangkap. Itu saja intinya” pungkasnya. (Edho)

Komentar

News Feed