oleh

Terusik Keberadaan “Polisi Tidur” Pembuat Bisa Dipolisikan, Ini Ancaman Hukumannya

MATARAKYAT | Dibeberapa ruas jalan tak terkecuali di lorong-lorong kampung sering ditemykan polisi tidur debgan maksud mengurangi laju kendaraan. Hanya saja jika bentuknya dapat mengganggu apalagi menjadu penyebab kecelakaan atau kerusakan kendaraan maka pembuat bisa dipidana.

Untuk memperlambat laju kendaraan, masyarakat kerap membuat polisi tidur. Tujuannya memang baik, untuk menghindari kecelakaan dan laju motor menjadi terkendali.

Tapi yang bikin jengkel kalau ukuran polisi tidur yang besar dan jumlahnya banyak maka memungkinkan dilaporkan pembuat polisi tidur tersebut dan penjara satu tahun menantinya.

Hal ini tertuang dalam peraturan No 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan dengan ancaman pidana. Ada dua pasal yang mengatur tentang hal ini yakni pasal 274 dan 275.

Pasal 274 menyebutkan setiap orang yang melakukan perbuatan yang mengakibatkan kerusakan dan atau gangguan fungsi jalan seperti yang dimaksud dalam pasal 28 ayat 1 dapat dipidana penjara paling lama satu tahun atau denda paling banyak Rp 24.000.000.

Sementara pasal 275 ayat 1, setiap orang yang melakukan perbuatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi Rambu Lalu Lintas, Marka Jalan, Alat pemberi isyarat lalu lintas, fasilitas pejalan kaki dan alat pengaman pengguna jalan sebagaimana dimaksud dalam pasar 28 ayat 2 dipidana kurungan paling lama satu bulan dan denda paling banyak Rp 250.000.

Peraturan mengenai ukuran serta penempatan polisi tidur sudah diatur dalam peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM.3 tahun 1994 Pasal 4.

Peraturan ini menjadi acuan untuk membuatan pilisi tidur yang benar dan aman untuk pengguna jalan. (Lubna PS)

Komentar

News Feed