oleh

Kota Makassar Urutan Dua Terkorup di Indonesia

Matarakyat| Kota makassar berhasil mengukir prestasi kota berkinerja terbaik atau tertinggi nasional pada peringatan Hari Otonomi Daerah XXI Tahun 2017, di Sidoarjo, Jawa Timur, bahkan Makassar mengungguli sembilan kota besar lainnya di Indonesia dengan skor penilaian 3,3992. namun dengan banyaknya penghargaan yang diraih makassar terselip catatan hitam dari
Transparency International Indonesia (TII) kembali merilis Indeks Persepsi Korupsi (IPK) di 12 kota besar. Dan hasilnya, Makassar menempati urutan kedua kota terkorup di Indonesia.

Makassar berada di bawah Medan dengan koleksi poin 37,4. Sementara Makassar memperoleh 53,4 poin.

Dibawah Medan dan Makassar, diisi oleh Bandung (57,9) dan Semarang (58,9) di posisi 3 dan 4. Sementara Surabaya (61,4) dan Manado (62,8), menguntit di posisi 5 dan 6.

Kemudian disusul Padang (63,1), Banjarmasin (63,7), Balikpapan (64,3), Pekanbaru (65,5) dan Pontianak (66,5). Diposisi terakhir, ada Jakarta Utara dengan koleksi poin 73,9, sekaligus mengantakan kota ini sebagai kota terbersih dari praktik korupsi.

Manajer Departemen Riset TII Wawan Suyatmiko mengatakan, kesimpulan tersebut adalah hasil survei yang dilakukan TII mengenai indeks persepsi korupsi (IPK). Survey dilakukan 12 kota besar di bagian barat, tengah, serta timur Indonesia.

“Angka 0 adalah paling buruk dan 100 adalah paling bersih,” Pungkas Wawan.
Survei melibatkan sedikitnya 1.200 pengusaha di 12 kota untuk dijadikan responden. Masing-masing kota diambil sekitar 80-110 responden. Sektor usaha yang dilibatkan antara lain di manufaktur, jasa, perdagangan, konstruksi, dan keuangan.

Sementara itu, 12 kota yang disurvei dipilih atas beberapa pertimbangan. Antara lain masing-masing kota adalah ibukota provinsi, menyumbang nilai produk domestik bruto (PDB) yang besar di tingkat nasional. Selain itu, kedua belas kota juga dianggap dapat mewakili masing masing wilayah bagian barat, tengah dan timur Indonesia.

“Survei ini dilakukan menggunakan lima indikator,” imbunya seperti dikutip dari laman makassartv.com

Pertama, dari aspek prevalensi korupsi. Indikator itu mengukur sebesar apa dan seberapa sering penyalahgunaan wewenang yang terjadi antara lembaga pelayanan publik, dengan pelaku usaha di masing-masing kota.

Kedua, akuntabilitas publik yakni melihat bentuk pertanggungjawaban dana publik yang digunakan. Ketiga, Motivasi korupsi yaitu dorongan yang timbul terhadap pejabat publik untuk melakukan tindak pidana korupsi.

“Kita tanya, misalnya, pernah enggak pengusaha diminta memberikan suap atau gratifikasi,” kata Wawan.

Indikator keempat adalah dampak korupsi. TII meneliti sektor usaha apa saja yang terdampak praktik suap. Kelima atau terakhir mengenai efektifitas pemberantasan korupsi di masing masing kota.

Di samping itu, TII juga menggunakan Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi dan Strategi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi (Stranas PPK) dalam melakukan survei.

Merujuk dari hasil survei secara keseluruhan, Wawan mengatakan pelayanan publik di Indonesia mengalami banyak perbaikan.

Itu tercermin dari poin indeks persepsi korupsi di Indonesia tahun 2017 yang, berdasarkan survei 12 kota itu, mencapai angka 60,8.

Angka tersebut lebih tinggi dari tahun 2015 lalu yang hanya mencapai 54,7 poin.

“Terjadi banyak perbaikan di pelayanan publik, khususnya yang berkaitan antara pelaku usaha dengan penyedia layanan. Baik itu reformasi perizinan, pengadaan, hingga regulasi,” katanya.

Jika diuraikan berdasarkan lima indikator yang telah disebutkan, maka prevalensi korupsi meraih angka 53,9 poin, akuntabilitas publik 60,9 poin, motivasi korupsi 57,2 poin, sektor terdampak korupsi 63,2 poin, instansi 61,5, dan efektifitas pemberantasan korupsi 65,3 poin

“Ini menjadi amunisi kita, transparansi nasional untuk bicara lebih banyak dengan stakeholder di tingkat kota, dengan pelaku usaha dan pemerintahnya bahwa kondisi kita seperti ini,” ucapnya (tim)

Sumber http://www.makassar.tv/news/wow-makassar-urutan-kedua-kota-terkorup/

Komentar

News Feed