oleh

Identifikasi Mikroplastik, Hal Ini Dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan

MATARAKYATMU | Kebiasaan manusia membuang sampah sembarangan di laut, kini dihadapkan pada bencana pencemaran plastik. Partikel plastik yang berukuran kecil berpotensi mencemari rantai makanan serta mengkontaminasi biota perairan karena mikroplastik dapat menyerap dan melepaskan bahan kimia yang beracun dan berbahaya.

Keberadaan mikroplastik di perairan dapat dengan mudah dimakan oleh hewan air. Tentu saja hal ini mengganggu dan mencemari rantai makanan dan beresiko bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Plastik yang tidak terurai akan dimakan oleh ikan dan terakumulasi melalui rantai makanan dimana konsumen akhirnya adalah manusia.

Penelitian terbaru antara Universitas Hasanuddin dan University of California Davis di tahun 2014 dan 2015 menemukan cemaran plastik mikro di saluran pencernaan ikan dan kerang yang dijual di tempat pelelangan ikan terbesar di Makassar Sulawesi Selatan.

Selain bersifat karsinogenik, mikroplastik berbentuk fragmen berbahaya karena merusak pencernaan. Temuan mikroplastik pada pasar ikan di Makassar menunjukkan tingginya pencemaran plastik di laut.

Mengingat pentingnya bahaya mikroplastik, Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Balai Besar Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Makassar menggelar kegiatan Pelatihan Identifikasi Mikroplastik pada tanggal 14 Desember 2017 yang diikuti oleh instansi terkait dan pegawai BKIPM Makassar.

Kegiatan ini mengangkat tema “Membangun Kesadaran Akan Resiko Plastic Debris Pada Keberlangsungan dan Keamanan Hasil Perikanan”. Narasumber kegiatan ini adalah Shinta Werorilangi, dosen Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin.

Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan informasi dan membangun kesadaran kepada peserta tentang bahaya mikroplastik pada produk perikanan. Kepala BKIPM Makassar, Sitti Chadidjah, menyampaikan bahwa Indonesia merupakan penghasil sampah plastik nomor dua terbesar di dunia setelah China, dan Makassar merupakan berpotensi menjadi salah satu lokus dari arus yang membawa sampah plastik di Indonesia.

“Posisi Makassar sebagai pintu ekspor di wilayah timur Indonesia sangat strategis sehingga isu mikroplastik menjadi penting untuk didiskusikan mengingat produk perikanan yang diekspor bukan tidak mungkin akan terkontaminasi oleh partikel mikroplastik yang berbahaya jika kita tidak memiliki kesadaran bersama untuk mengurangi resiko tersebut” jelas Sitti.(pa/Noya)

Komentar

News Feed