oleh

Benarkah Buku Perekat Kasih Sayang Keluarga?

AWAL  dari tahun baru 2018, saya kembali teringat pernyataan Cristhoper Morley yang berkata bahwa ketika kita menjual kepada seseorang sebuah buku, sebenarnya kita tidak hanya menjual 12 ons kertas dan tinta sekaligus lem, akan tetapi kita menjual sebuah kehidupan baru yang lengkap. Bijak ucapan Morley itu benar adanya. Sejurus dengan pengalaman saya sebagai penulis, juga penggerak minat baca, fakta tentangnya sudah ada. Contoh anak yang gemar membaca sejak dini, ternyata itu bisa memberikan pengalaman yang begitu besar dalam dirinya. Juga menjadi kelengkapan untuk menjadi manusia yang utuh.

 

Mari kita perhatikan anak-anak, lalu merangkai sebuah tanya,apa yang menarik dari kebiasaan membaca anak? Jawabnya, anak-anak yang gemar membaca bebas memilih tokoh-tokoh dan sahabat imajiner  dari buku yang dibacanya. Kala mereka membaca, seolah sementara bersama dengan tokoh yang ada dalam buku itu. Padahal sebenarnya, itu hanya imajinasi saja. Ada hal menarik lain, boleh jadi buku yang dibaca memberi segudang inspirasi. Dengan inspirasi itu, ia bangun dunia yang ideal, buku juga akan mengajarkan mereka cara bersosialisasi. Karena itu, saya mencoba melihat anak-anak yg terbiasa membaca buku, mereka akan memperoleh ribuan pola kehidupan yang berbeda. Misalnya saja,ada yang kompleks dan sarat pertimbangan dan sifat selektifnya tampak.

Bukankah buku bisa memberikan kasih sayang pada pembacanya? Benar. Selain buku menunjukkan esensi kasih sayang, buku juga memahami pandangan orang lain. Buku adalah perekat kasih sayang bagi anak-anak  dan orang tua. Karena itulah buku menjadi produk intelektual  sekaligus produk industri yang bisa menjadi perekat dan jalan keluar pada setiap persoalan yang muncul ditengah keluarga. Bukankah kita butuh figur keluarga yang sayang buku?

(Bachtiar Adnan Kusuma)

Komentar

News Feed