oleh

Bagimana Mempersiapkan Kematian, Sebuah Catatan dari Tolitoli

-Aneka-1.228 views

HARI ini genap empat hari kami berada di Desa Kombo Kec.Dampal Selatan Kab Toli-toli, sekitar lima jam perjalanan darat dari Bandara Mutiara Palu. Sebuah perjalanan spritual yang mengasyikkan sekaligus menghadiri pemakaman ayahanda mertua kami tercinta, Puang Kaimuddin Mahmud yang acapkali dipanggil oleh anak-anak,cucu maupun keluarga besarnya” Puang Kombo” seperti nama kampung atau desa tempat tinggalnya.

Apa hikmah di balik dari sebuah kematian? Menurut kami, perjalanan hidup manusia melewati tiga episode yaitu: adanya kelahiran, adanya ujian dan ujungnya sebuah kefanaan. Kehidupan manusia berawal dari adanya kelahiran. Proses kelahiran ditandai dari sebuah kegembiraan karena adanya tali perkawinan menyebabkan adanya kelahiran. Manusia lahir, tumbuh dan berkembang pada akhirnya mengalami ujian dan tantangan. Ujian dan tantangan menjadi sebuah wujud syukur dan sabar. Hanya Sabar dan syukur menjadi kunci utama menghadapi hidup ini. Takkan ada manusia yang bisa lulus dari kedua hal itu, hanya bagi mereka yang bersabar sekaligus selalu bersyukur.

Ujung dari sebuah perjalanan hidup manusia yang kekal hanya sebuah kefanaan. Makanya, hidup ini hanya sementara dan kehidupan yang kekal hanya alam akherat. Modal investasi kita menghadapi kekalnya kehidupan akherat hanya dengan ibadah yang rutin, menjaga silaturahmi dan beramal sosial lewat berinfaq.

Nah, apa yang sebaiknya dilakukan untuk mempersiapkan kematian? Banyak hal yang bisa dilakukan, misalnya di negara-negara Eropa, seseorang berlatih untuk mati dengan menggali tanah sesuai ukurannya, kemudian menanam dirinya dengan hanya kepala yang terbuka selama 24 jam. Ini adalah terapi kematian bagi orang-orang Eropah. Untuk Muslim terapi kematian yang ideal hanya dengan ibadah dan amal-amal yang baik.

Kami bersyukur karena di tengah menghadapi sakratul maut, ayahanda mertua kami” Puang Kaimuddin Mahmud” jauh hari sebelumnya telah mempersiapkannya dengan baik. Caranya dengan menjaga dengan sangat baik shalat jamaah setiap waktu di masjid, shalat tahajud, puasa sunnah, infaq, kejujuran, kesabaran dan kesantunan yang amat patuh diteladani.

Benarlah orang yang mempersiapkan kematiannya dengan baik, akan mengalami kematian dengan indah. Ibarat orang yang akan bepergian, almarhum Puang Kaimuddin telah siap dengan memasukkan semua pakaian-sebelumnya dirapikan kemudian dimasukkan dalam tas untuk tujuan ke Makassar. Hanya berselang tiga hari berturut-turut tidak hadir shalat jamaah di masjid, rupanya almarhum telah bersiap menemui ajalnya. Tak ada sakit dan hanya berdiam diri di kamar sembari berdoa, bertasbih dan membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Pas jam sembilan pagi, Selasa 2 Januari 2018, akhirnya pamit dengan membaca Lailaha Illahllah, sembari menolek ke kiri dan kanan, akhirnya menutup mata untuk selama-lamanya.

Kematian yang indah hanya bisa dicapai dengan berdamai dengan kematian itu sendiri……(bachtiar adnan kusuma)

Komentar

News Feed