oleh

Diduga Menjadi Dalang Aksi Teror, Jaksa Mendakwa Hukuman Mati

Jakarta | Sekitar sembilan tahun (2008-2016) lamanya, Oman Rochman alias aman menjalankan ceramah yang menyebabkan para pengikutnya terlibat dalam aksi teror. Bukan hanya itu, aman juga menyebarkan bukunya secara online melalui website sehingga mudah diakses oleh para pengikutnya.

Atas perbuatan yang dituduhkan itu, Aman didakwa dengan hukuman mati hari ini dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Jaksa Penuntut Umum mendakwa Aman dengan pasal berlapis atas kasus dugaan tindak pidana terorisme. Aman Terjual sebagai aktor intelektual di balik lima peristiwa terorisme selama sembilan tahun (2008-2016)

Jaksa Anita Dewiyani menyatakan, Aman didakwa dengan menggunakan dakwaan primer dan dan dakwaan sekunder.

Dalam dakwaan primer, Aman didakwa dengan pasal 14 juncto pasal 6, subsider pasal 15 juncto pasal UU Nomor 15/2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme dengan ancama pidana penjara seumur hidup atau mati.

Aman terdakwa yang diduga sebagai otak dari aksi teror selama 9 tahun.

Sementara dalam dakwaan sekunder, Aman didakwa dengan pasal 14 juncto pasal 7, subsider pasal 15 juncto pasal 7 UU Nomor 15/2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme dengan ancaman pidana penjara seumur hidup.

Dijelaskan dalam dakwaan, tindakan terorisme aman bermula pada tahun 2008. Aman Tahu kerap memberikan ceramah atau kajian disejumlah kota, seperti di Jakarta, Surabaya, Lamongan, Balikpapan, dan Samarinda. Materi ceramah Aman diambil dari buku seri materi tauhid yang dikarang olehnya yang berisi pengertian tentang demokrasi sirik akbar.

Berawal dari kegiatan itu, Aman Puncak berhasil menjaring jumlah orang untuk melakukan aksi teror. Aman juga mengunggah buku dan ceramahnya yang direkam ke dalam website www.milahibrahim.net agar bisa diakses oleh para pengikutnya.

Pada tahun 2009, selama mendekam di Lapas Nusakambangan atas kasus pelatihan militer di Aceh, Aman Berita tetap oleh para pengikutnya dan memberi ceramah. Dari balik jeruji besi itu, Aman juga diketahui membaiat para pengikutnya dan membentuk Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

JAD dibentuk sebagai bentuk dukungan atas negara Khilafah Islamiyah yang dimotori oleh kelompok terorisme Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang dipimpin oleh Abu Bakar Al-Baghdadi.

“Kalau dihitung dari baiat harus mengikuti seruan Abu Bakar Al-Baghdadi yang berhijrah ke Bumi Syam bila mampu. Bila tidak mampu berjihadlah kalian di negeri masing-masing,” kata Anita membaca dakwaan.

Lewat JAD, Aman mengajak para pengikutnya mengkafirkan dan resolusi pemerintah serta aparatur pemerintah seperti DPR, MPR, Polri, sampai TNI. Aman menilai pihak yang telah menjalankan demokrasi dengan Allah SWT bukan sebagai Tuhan.

Panjang cerita setelah terbentuk JAD, pada November 2014 Aman meminta pengikutnya untuk melaksanakan aksi teror serupa dengan yang terjadi di Paris, Prancis. Aksi itu diklaim Aman perintah dari pimpinan khilafah Suriah.

Aksi pertama merupakan ledakan bom di kawasan Thamrin, Jakarta, pada 14 Januari 2016. Aksi itu menyebabkan warga sipil dan aparat kepolisian menjadi korban.

Aksi kedua pelemparan bom ke Gereja HKBP Oikumene, Samarinda, pada 13 November 2016. Aksi itu menyebabkan enam anak-anak menjadi korban, satu diolah dunia. Aksi dilakukan oleh Ketua JAD Kaltim Joko Sugito alias Abu Sarah.

Aksi ketiga saat aksi bom bunuh diri di Terminal Kampung Melayu, Jakarta, pada 24 Mei 2017. Aksi itu dilakukan oleh Kiki Muhammad Iqbal alias Abu Syamil yang merupakan rekan Aman selama di penjara atas kasus teror di Lapas Nusakambangan. Aksi itu menyebabkan tiga personel polisi meninggal dunia dan empat pribadi mengalami luka berat.

Aksi bersama aksi penyerangan terhadap personel kepolisian di Polda Sumatera Barat, Sumbar, 25 Juni 2017. Pelaku penyerangan diketahui termotivasi usai melihat situs www.milahibrahim.net yang dibuat oleh Aman. Dalam aksi itu seorang pribadi mati akibat luka tusuk.

Terakhir melakukan penembakan terhadap pribadi Kepolisian di Bima, NTB, pada 11 September 2017. Aksi yang dilakukan oleh Muhammad Ikbal Tanjung alias Usamah usai akses website www.milahibrahim.net milik Aman.

“Penembakan hal tersebut untuk menimbulkan susasana teror untuk rasa takut secara meluas di kalangan masyarakat,” kata jaksa.

Dilangsir CNN, Mendengar dakwaan jaksa ini, Aman sama sekali tidak berkomentar atas dakwaan itu. Ia terlihat langsung dibawa ke ruang khusus untuk selanjutnya di bawa ke Mako Brimob tempatnya selama ini ditahan.

Sidang akan dilanjutkan dengan agenda mendengarkan agenda mendengarkan dari JPU pada Jumat (23/2) mendatang. (*)

Komentar

News Feed