oleh

Wow, Berburu Babi Hutan Dengan APBD

-Daerah-2.422 views

PEMDA ENREKANG ANGGARKAN ‘BERBURU BABI(RUMANGNGAN )

ENREKANG | Kegiatan berburu Babi atau biasa disebut “Rumangngan” bagi masyarakat Enrekang menjadi suatu tradisi. Setiap hari Minggu mereka melakukan perburuan di kecamatan yang memiliki potensi Babi hutan.

Secara bergilir kecamatan dikunjungi sesuai permintaan.puluhan pemburu Babi mulai Duri kompleks hingga Enrekang Selatan turun ke desa yang akan di jadikan target perburuan dengan dilengkapi persenjataan berupa tombak dan beberapa ekor anjing untuk di jadikan umpan.

“Rumangngan ini ternyata membawa dampak positif bagi masyarakat petani jagung, yang nota bene sering diganggu tanamannya oleh Babi hutan pada malam hari . Sehingga membuat petani semakin tak berdaya maka dari itu pemerintah dalam hal ini Dinas Pertanian mencoba untuk menfasilitasi para’ to rumangngan melalui anggaran APBD II Enrekang “melekat dibidang tanaman pangan dinas pertanian,” ujar Kabid Tanaman Pangan Tomo.SP. kepada “Matarakyatku.com 28/2/2018 di ruang kerjanya

Tomi menjelaskan,  tahun 2018 kurang lebih 1 milyar rupiah anggaran di DPA, anggaran sebesar itu untuk biaya konsumsi makan minum yang ikut berburu karena  melibatkan pihak kepolisian dan Babinsa kendati pun diberikan honorium.

Lanjut dikatakan,  secara terkoordinir Rumangngan di setiap kecamatan dan desa sudah terbentuk tim koordinatornya dari 12 kecamatan dan ratusan desa. Pada saat mereka berburu jumlahnya tidak sedikit mencapai 5000-6000 orang sementara daerah yang kecamatan paling banyak Babi hutannya adalah kecamatan Enrekang, Cendana dan Maiwa.

Sebagian besar lahan pertanian masyarakat daerah situ ditaanami komuditi jagung sehingga masyarakat berburu Babi lebih cenderung kesana. “jadwal berburu satu kali dalam seminggu dengan menggunakan kendaraan bermotor adapula mobil,”ujar Tomo lagi.

Di daerah Karrang, Babi hutan terang-terangan masuk perkampungan warga pada siang hari bahkan hewan tersebut tidak merasa takut terlihat dikerumunan orang,mungkin saja babi itu keluar dari hutan lantaran kelaparan

“Tanaman jagung milik petanipun diembat akhirnya petani pun merugi akibat hama Babi hutan,  apalagi kalau Babi berkeliaran di malam hari menjadi keluhan petani hingga mereka harapkan dari tanamannya ternyata sudah di makan Babi.” tandas Erna selaku PPTK  Peningkatan Produksi Tanaman Pangan.

Ia menambahkan,  upaya pemerintah daerah membasmi hama Babi dengan meningkatkan perburuan semakin gencar dilakukan dan berhasik menangkap 50 ekor. Selama Rumangngan ‘eksis. petani sangat memberi apresiasi bahagia sebab Babi yang selama ini banyak merusak tanaman petani akhirnya sudah berkurang.

Sejak 2016 peningkatan produktivitas jagung meningkat 20 persen yaitu 78.372 ton hingga kucuran APBD bisa maksimal dibelanjakan termasuk pengadaan tombak dan kostum (baju) agar terlihat seragam.

Dikhir keterangannya,  Tomo ” menyebut bila rumangngan ini mendukung kegiatan Pusat Pajale ( padi, jagung, kedelai) dalam rangka mensukseskan program pemerintah pusat dan sinergi program pemerintah daerah bahkan ada juga masyarakat menjadikannya sebagai hobi dan jadikan kegiatan pariwisata serta olahraga.  (ani Hasan )

Komentar

News Feed