oleh

Gelar Professor ke SYL, Pantaskah?

MAKASSAR | Agenda pemberian gelar guru besar ke Gubernur Sulsel,  Syahrul Yasun Limpo,  memantik pro-kontra sebab dinilau tak pantas diberikan tanpa melalui prosedure akademik dkan mencederai hati para dosen.

Usulan pemberian gelar akademik tertinggi ini sontak membuat sejumlah dosen Unhas menyatakan rasa tidak setujunya. Seperti salah satu Guru Besar Fakultas Teknik Unhas, Prof Dr Eng Syafaruddin ST M Eng, yang menyampaikan ketidaksetujuannya melalui sebuah tulisan.

Pemberian gelar Professor ini, menurut Prof Syafaruddin dapat melukai hati dosen lain. Hal itu disampaikan Prof Syafaruddin lewat tulisannya yang dimuat Harian Fajar, 23 Januari 2018.

“Pemberian gelar profesor bagi seseorang yang bukan dosen tentu sangat memiriskan dan menciderai hati teman-teman sejawat akademisi… Semua teman dosen akan kecewa karena seseorang dengan mudahnya diusulkan untuk menjadi profesor tanpa kriteria penilaian akademik yang jelas, namun hanya karena faktor pertemanan, perkoncoan dan kekuasaan,” tulis Prof Syafaruddin di rubrik opini Harian Fajar.

Prof Syafaruddin menyampaikan pada gelar Professor terdapat hal sakral dan beban kinerja untuk pengembangan ilmu pengetahuan yang di gelutinya. Selain itu, Prof Syafaruddin juga mengatakan gelar Professor juga harus memberikan solusi ke masyarakat sesuai bidang kepakarannya.

“Oleh karena itu, jika seseorang yang bukan akademisi dan tidak pernah berkecimpung dalam pengembangan riset ilmu pengetahuan dan teknologi, maka secara filosofi tidak pantas, tidak hormat dan tidak layak menyandang gelar professor,” tegas Prof Syafaruddin.

Prof Syafaruddin pun membandingkan, dalam tulisannya, kerja keras para dosen berstatus Lektor Kepala dengan pemberian gelar Professor ke SYL.

Prof Syafaruddin menyampaikan dosen yang bercita-cita menjadi Professor, bersusah payah menyiapkan dokumen, melewati tahap validasi mulai dari tingkat prodi hingga universitas. tidak hanya itu, kata Prof Syafaruddin, dosen Lektor Kepala juga harus menanti pemberian gelar Professornya disetujui Kemenristekdikti.

Supratman SS MA, dosen Fakultas Ilmu Budaya Unhas juga menyampaikan rasa tidak setujunya terkait hal ini. Menurutnya, pemberian gelar Professor ke SYL akan menjadi sejarah kelam bagi Unhas.

“Sejarah kelam itu terjadi bila Unhas tidak mendapat rekomendasi, kemudian dengan begitu mudah memberikan gelar Professor kepada individu yang secara profesi dan tugas tidak berada dalam institusi akademik dan pendidikan,” ujar Supratman ketika dihubungi identitas, Senin (26/2).

Lebih lanjut, Supratman mempertanyakan landasan hukum yang mendasari pemberian gelar Professor ini.

“Hukum itu berlaku bila punya manfaat bagi masyarakat umum juga Negara, apa untungnya bila Syahrul diberi gelar Professor baik bagi pendidikan maupun Negara?” tanya dosen jurusan sastra Arab ini.

Menurut Supratman, Unhas sebagai pengusul harus membeberkan karya dari SYL ke public. hal itu karena public belum tahu SYL telah memenuhi syarat atau tidak, ujar Supratman.

“Karena dia pejabat public. harus di publish ke public pemenuhan (karya) akademik dari Syahrul, ini adalah bentuk pertanggungjawaban dia sebagai pejabat public,” jelas dosen yang tengah melanjutkan pendidikan doktornya di Iran ini.

Usulan pemberian gelar Professor tidak tetap di Unhas ini merupakan hal yang baru pertama kali. Di kampus lain, di tanah Jawa, beberapa tokoh mendapat gelar Guru Besar tidak tetap, seperti Presiden RI ke 6, Susilo Bambang Yudhoyono dari Universitas Pertahanan Nasional, Otto Hasibuan dari Universitas Jayabaya dan Chairul Tanjung dari Universitas Airlangga.

Lantas seperti apa kelanjutan usulan pemberian gelar Professor ke SYL nanti?

Komentar

News Feed