oleh

Awas! Nikah Mut’ah di Kampus Marak

MAKASSAR | Sedikitnya 100 Relawan Sosialisasi Fatma (Resofa) MUI menggeruduk Kantor DPRD dan Gubernur Sulsel di Jl. Urip Sumiharjo, menolak ajaran Syiah, sore tadi (21/3).

Aksi unjukrasa dipimpin  Ustadz KH. Said Abd. Samad (Ketua RESOFA/Ketua Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam/LPPI Wilayah Indonesia Timur) dalam rangka menolak penyebaran ajaran Syiah.

KH Said Abd Samad dalam orasi dengan tegas meminta agar DPRD Sulsel dan Pemprov. Sulsel memperkuat fatwa, rekomendasi dan panduan MUI, sebagai acuan menilai aliran-aliran keagamaan (Islam) di tengah-tengah masyarakat.

Resofa meminta DPRD Sulsel dan Pemprov Sulsel menerbitkan Peraturan Gubernur (Perda Sulsel) untuk mewaspadai dan mengantisipasi ajaran-ajaran yang telah dinyatakan oleh MUI sebagai ajaran yang menyimpang atau sesat seperti Syi’ah, Ahmadiyah, Pluralisme, Islam Jamaah.

Tuntutan lain dari pengunjukrasa adalah meminta DPRD Sulsel dan Pemprov. Sulsel menerbitkan surat edaran kepada Lembaga Keagamaan dan Pendidikan supaya menghentikan segala bentuk kerja sama dalam bidang keagamaan dan pendidikan serta kebudayaan dengan pihak pemerintah Iran dan lembaga keagamaan dan pendidikan Iran sesuai pandangan MUI, dan membatasi hubungan itu dalam bidang ekonomi/perdagangan dan politik.

Di depan tim penwrima aspirasi, perwakila dari 54 lembaga keagamaan menjelaskan ajaran Syi’ah ini merupakan ajaran sesat sesuai Fatwa MUI dan sudah memasyarakat termasuk di kampus – kampus dengan fenomena nikah Mut’ah. “Kondisi saat ini sudah banyak mahasiswi yg hamil tanpa diketahui siapa suaminya,” ujar pengunjukrasa.

La Kaisar Andera mahasiswa UIN Alauddin asal Buton yang ikut dalam aksi itu mwnjelakan,  jika Syi’ah tidak dicegah termasuk nikah Mut’ah maka tunggu saja akan terjadi kehancuran atas bangsa ini.
La Kaisar juga menyesalkan adanya larangan dari pihak kampus di UIN yang melarang pengkajian paham Syi’ah di kampus. (ary)

Komentar

News Feed