oleh

Taman Baca dan Semangat A’Bulo si Batang

BANTAENG – Proses belajar adalah kegiatan yang sebaiknya tidak berhenti dilakukan. Seperti ungkapan yang sering kita dengar agar menuntut ilmu dari ayunan hingga liang lahat. Bagi anak muda, belajar akan menjadi modal untuk masa depannya. Untuk yang telah dewasa, barangkali belajar akan memberikan tambahan pengetahuan tentang jalan hidup yang telah dipilih.

Kita semua menyadari bahwa sekolah memiliki peran penting dalam pelaksanaan pendidikan. click Namun, kita menyadari pula bahwa pendidikan tidak hanya terbatas pada bangunan yang disekat oleh dinding-dinding segi empat tersebut. Tugas mendidik pun bukan menjadi tanggung jawab guru di sekolah semata, sebab sekolah sebenarnya hanyalah lingkungan pendidikan yang ketiga setelah pendidikan di lingkungan keluarga dan lingkungan tempat tinggal kita. Oleh karena itu, pendidikan seyogyanya melibatkan peran semua pihak.

Gerakan Literasi
Akhir-akhir ini pemerintah terlihat begitu serius menyerukan gerakan literasi untuk mendorong minat baca warga negaranya. Presiden Joko Widodo menginstruksikan pengiriman buku gratis pada tanggal 17 setiap bulan melalui Pustaka Bebas Bea yang dilaksanakan oleh Kantor Pos. Ditambah lagi sayembara menulis bahan bacaan yang diadakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbud yang dilaksanakan tiap tahunnya.

Gerakan literasi ini disambut dengan baik oleh pegiat literasi di daerah-daerah. Para pegiat yang berasal dari berbagai kalangan saling mendukung pada setiap kegiatan yang bermaksud untuk memajukan literasi. Salah satu dampak yang bisa kita lihat ialah dengan bermunculannya Taman Baca Masyarakat. Menariknya, kehadiran Taman Baca Masyarakat ini lahir dari kesadaran masyarakat kita sendiri untuk mengambil bagian dalam pengembangan literasi.

Bahkan, Taman Baca Masyarakat yang dirintis oleh pegiat literasi dari alumni Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM-3T) yang tergabung dalam Masyarakat SM-3T Institute, kini telah menjangkau hingga daerah pelosok paling terpencil dari negara kita. Hal tersebut tidak terlepas dari kebijakan pengiriman buku gratis yang telah dicanangkan oleh pemerintah.

Budaya A’bulosibatang
A’bulosibatang_ adalah salah satu kearifan lokal Sulawesi Selatan. Terjemahannya dari Bahasa Makassar kurang lebih memiliki arti; menjadi bambu yang sebatang. Ungkapan tersebut memiliki makna tentang kebersamaan, persatuan, dan juga gotong royong. Sejalan dengan sila ketiga dari dasar negara kita; Persatuan Indonesia. Hingga saat ini, nilai-nilai tersebut masih bisa kita lihat pada beberapa kegiatan di dalam masyarakat Sulawesi Selatan. Meskipun harus kita akui adanya pergeseran hingga membuat ikatannya tidak sekuat dulu lagi.

Taman Baca Masyarakat hadir sebagai salah satu wadah yang barangkali mampu memperkuat kembali semangat _a’bulosibatang_ tersebut. Sebab, taman baca pada hakikatnya tidak akan tumbuh dan berkembang dengan baik pula apabila tidak ada kerjasama dan dukungan dari berbagai pihak.

Hal pertama yang menjadi wajib pada setiap perintisan taman baca ialah buku sebagai bahan bacaan. Pengelola jelas telah menyiapkan bahan bacaan pada saat taman baca dibuka pertama kali. Akan tetapi, dalam perkembangannya buku-buku tersebut akan habis terbaca dan pengunjung akan mencari bahan bacaan yang baru. Taman baca pun memerlukan donatur untuk menambah koleksi bukunya. Uniknya, semangat _a’bulosibatang_ dari para donatur tidak hanya muncul di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan saja, tetapi juga melintasi batas-batas provinsi lain di seluruh Indonesia.

Kedua, taman baca memerlukan pengunjung agar buku-buku yang ada, tidak sekadar menjadi pajangan. Untuk memperoleh pengunjung taman baca yang sesuai harapan, semangat _a’bulosibatang_ pun tetaplah diperlukan. Olehnya itu, dukungan dari para orangtua juga dorongan dari pihak sekolah untuk memotivasi anak-anaknya merupakan perihal yang sangat penting. Begitu pula dukungan dari masyarakat setempat benar-benar dibutuhkan agar mereka berminat mengajak rekan-rekannya untuk berkunjung ke taman baca.

Simpul semangat a’bulosibatang yang terjalin antara pihak pengelola taman baca, donatur, orangtua, pihak sekolah, dan masyarakat barangkali pula akan lebih kuat jika mendapat dukungan dari pemerintah setempat. Meskipun, memang bukanlah hal yang mutlak, tetapi jika bisa ikut serta bersinergi, mungkin hasilnya akan lebih baik lagi.

Taman Baca Masyarakat yang terbangun dengan semangat _a’bulosibatang_ memiliki peluang yang amat besar untuk bisa memberikan sumbangsih bagi penguatan pendidikan dalam masyarakat kita. Dengan demikian, pendidikan di sekolah-sekolah menjadi lebih berkembang berkat adanya dukungan dari luar sekolah dengan simpul budaya yang semakin erat sebagai nilai tambahnya.

Oleh: Hendra Hermawan
(Perintis TBM Paladang)
Bantaeng, April 2018

Komentar

News Feed