oleh

SEJARAH SAKRAL HARI MINGGU

-Aneka-1.490 views

Oleh : Ferry Baharudin

Bertolak dari kata Do-Mingo, dalam bahasa spanyol, secara harfiah memiliki arti “Hari Tuhan.” Secara historis, dalam kesejarahan penyebutan ke-tujuh hari yang kita kenal serta begitu familiar sampai hari ini, merupakan sebuah penanda bagi pelaksanaan ritus penyembahan Tuhan. Ada nilai sakral.

.
Bagi sebagian besar kaum Yahudi konservatif, hari Sabtu, atau Sabat dalam bahasa ibrani, di maknai sebagai hari dimana Tuhan telah selesai menciptakan alam raya ini. Maka, hari Sabtu ini menjadi waktu libur bagi pekerjaan Tuhan. Alasan inilah yang menjadi pembenaran bagi pemeluk Yahudi konservatif untuk bermalas malasan di hari Sabtu, atau sebut saja waktu santai akhir pekan.

Islam, dengan konsep tauhid, ahad, yang tunggal itu secara implisit menolak segala sesuatu (selain Allah) sebagai objek sakralisasi. Dengan kata lain, hanya Tuhan itu sendiri yang harus di sakralkan. Hal ini di karenakan, segala sesuatu yang di sakralkan mengakibatkan ketakutan serta ketergantungan

Sederhananya, misalkan ada unsur sakral dalam penyebutan hari, maka ketergantungan dan ketakutan muncul terhadap hari itu sendiri. Padahal, yang semestinya di takuti serta menjadi tempat bergantung merupakan yang men-Cipta hari beserta tatanan ruang dan waktu yang teratur ini.

Dalam Islam, sebutan ke tujuh hari tersebut merupakan kata bebas nilai. Artinya tidak ada unsur sakral dalam penyebutan hari, tidak ada hari penyembahan. Jika ada, maka akan ada hari Magrib, hari Ishak, Hari Subuh, pada hari Senin.

Dengan demikian, hari Jum°at di maknai sebagai hari berkumpul (jama°ah). Bukan merupakan hari penyembahan sebagaimana pemeluk Yahudi. Jadi tidak ada unsur sakralisme hari dalam Islam.

Maka, nasib seseorang bukan bergantung pada hari baik, melainkan usaha maksimal manusia menjemput kehendak Tuhan. Karena sejati nya, konsep ke-tujuh hari tersebut adalah sama dalam pandangan Islam, tidak ada hari baik, predikat “baik” identik dengan sakralisasi.

Pada kasus lain, hal sama juga tidak boleh terjadi. Hal ini penting, mengingat dalam kalimat persaksian (Syahadat) yang pertama, “Tidak ada Tuhan,” merupakan komitmen awal untuk memerdekakan diri dari ke sakralan bendawi, yang cenderung memberikan efek ketakutan serta ketergantungan.

Selanjutnya, “Selain Allah,” jelaslah bahwa kepada Allah lah selayaknya kertegantungan itu. Jadi, dalam kalimat syahadat itu ada pembebasan, liberalisasi sakralisme semu, kepada yang semestinya dan seharusnya sakral.
“Jadi, nasibmu bukan tergantung pada batu akik yang melingkar di jari manismu, atau kemana arah angin yang semestinya kau ikuti hari ini.”

Seringkali, ketentuan Tuhan (takdir) yang di maknai seseorang tidak cukup memuaskan bagi keinginan pencapaian dirinya atas usahanya (yang maksimal), mengalami perubahan redaksional menjadi “Nasib.”(Ir)

 

 

Komentar

News Feed