oleh

Begini, Kisah Mistis yang Dialami Seorang Pemabuk dan Penikmat Tembakau Gorila

-Aneka-2.023 views

YOGJAKARTA| Seorang lelaki bernama Joe ( 36 ) penikmat gaya hidup hedonis, menceritakan fenomena mistis dalam kehidupannya yang terjadi saat sedang mabuk dan dalam pengaruh minuman serta tembakau Gorila.

Pengalaman mistis saat mabuk ketika itu terjadi secara tiba-tiba, dimana hadirnya penampakan Genderuwo dengan sosok hitam yang besar di depannya hingga terkejut bukan main, secara spontan membuat dirinya menantang penampakan tersebut.

Kejadian menantang Genderuwo saat mabuk terjadi di salah satu gang kompleks perumahan di bilangan kota Yogyakarta beberapa waktu lalu, seperti dilansir MitosMakassar.com.

Joe yang usai bersenang-senang bersama temannya hingga dini hari, pulang dengan menggunakan taksi. Karena sudah terlalu mabuk untuk berkendara. Terlebih masih dalam pengaruh sehabis menghisap rokok tembakau Gorila.

“ Kepalaku menjadi sedikit pening. Taksi yang kunaiki waktu itu menurunkanku di salah satu gang kompleks perumahanku, karena rumah kontrakanku hanya berjarak sekitar 100 meter dari situ. Aku berjalan terhuyung karena efek tembakau gorila dan alkohol. Langkah kakiku gontai tak terarah aku mencoba tetap tersadar agar bisa mencapai bibir pintu rumahku “, kisahnya.

Sekitar beberapa meter dari rumahku. Aku tertegun dalam tremor kakiku yang sudah diambang batas. Ada sosok hitam yang besar berdiri di tepi jalan. Sosoknya yang hitam dengan matanya yang merah itu tampak diam dengan suara menggeram yang cukup mengerikan.

Aku yang dalam keadaan setengah mabuk mengira itu merupakan efek dari tembakau gorila yang masih bersisa di dalam diriku, Pergi lo! Mau nimpa gue hah ? Timpa aja kalo berani! hardikku pada sosok hitam besar itu, sembari menyambar beberapa kerikil di tanah dan kulemparkan kearah sosok tersebut, kemudian melanjutkan jalanku menuju kontrakan.

Singkat cerita aku telah masuk ke dalam kontrakanku. Dan melemparkan badanku yang telah berhasil melawan gontai kearah kasur nan empuk. Ah, tidak ada sahabat yang paling mengerti keadaanku waktu itu selain kasur.

Namun siapa sangka, kejadian yang lebih menyeramkan kemudian terjadi kepadaku. Terdengar suara yang teramat keras seolah menggedor pintu lemari kamarku! Suara itu terdengar jelas! Dan aku yakin dari kerasnya suara gedoran itu.

Siapa pun yang berada dibaliknya pasti sedang marah. Dalam keadaanku yang sedang tergelepar di atas kasur. Sontak aku terkejut dan terjaga. Pendengaranku menajam seolah ingin memastikan apakah suara yang barusan terdengar memang benar-benar nyata dan bukan sugesti yang keluar karena efek mabuk.

Brraaakkk….brak….brakk….. brakkk!!! Suara itu benar-benar ada dan semakin menjadi-jadi. Kulihat pintu lemari yang berada di pojokan kamar tidur tampak bergetar, seolah ada orang yang mencoba berusaha keluar dari dalam.

Woy! Jangan main-main lu ya! aku berteriak tegas mencoba untuk mengingatkan siapa pun yang sedang bersembunyi di dalam lemariku itu. Aku menerka dua orang teman satu kontrakanku yang sedang iseng mengerjaiku. Suara gedoran lemari itu kemudian berhenti sejenak. Namun tak membutuhkan waktu lama. Suara gedoran itu muncul kembali. Aku yang merasa terganggu menghampiri lemari itu dan membukanya dengan cepat sembari mengecam dengan kata-kata kasar.

Namun sial, bukan salah satu dari kedua teman kontrakanku yang kutemukan dibalik lemari kamarku waktu itu. Namun sosok hitam legam berbulu yang menatapku dengan penuh kebencian dengan matanya yang merah menyala.

Gigi-giginya yang besar dan penuh liur menggeram siap menerkamku dengan buas. Kakiku mulai merinding dan mundur perlahan kearah pintu keluar kamar. Mata yang menyala itu masih menatapku sembari mengikuti ke mana arah gerakku.

Kemudian aku mulai berlari menjauh menuju pintu keluar. BRUK! – aku terjatuh! bukan karena kakiku tidak bisa menopang kesadaranku karena masih dalam pengaruh alkohol.

Aku merasakan cengkeraman kuat yang ada di pergelangan kakiku. Sosok hitam besar itu ternyata mencengkeram kakiku menghalauku untuk hengkang dari hadapannya. Aku meronta dan hendak berteriak. Namun semuanya terlambat.

Sosok itu sudah menindihku dengan badannya yang besar. Dia membungkamku dengan tangannya cakarnya. Seolah menahanku untuk berteriak. Aku tidak berdaya! perasaan tertindih oleh sosok besar ini terasa familiar.

Mirip seperti setelah aku menghisap tembakau gorila beberapa saat yang lalu. Aku sempat berpikir apakah ini merupakan efek lanjutan dari tembakau gorila yang sempat kunikmati saat sedang dalam klub tadi.

Tetapi hati kecilku berkata lain. Ini bukanlah ilusi. Sosok besar dengan mata merah menyala itu menatapku dalam-dalam sambil menggeram penuh kebencian. Dia menatap tepat dengan tajam kearah mataku, seolah-olah dia ingin menyampaikan sesuatu atau lebih mirip seperti orang yang menantang berkelahi.

Grrrrrrrh…grrrhhhwww…. Kucoba meronta-ronta lebih keras lagi. Sia-sia mungkin, karena memang badannya sangat besar. Namun aku harus melakukan sesuatu, pikirku dalam hati.

Kugenggam tangan besar sosok itu yang menahan mulutku dengan kedua tanganku, dan kugigitlah erat-erat jarinya. Rasanya seperti menggigit ubi mentah yang masih dilumuri dengan tanah.

Terlepas dari cengkeraman sosok itu, aku mulai menggunakan sisa-sisa tenagaku untuk berteriak “TOLOOONG! TOLOONG!” sekuat tenaga. Untung saja kedua teman satu kontrakanku mendengar suara teriakanku dan bergegas datang ke kamarku Aku terus meronta-ronta khawatir.

Kedua teman satu kontrakanku yang telah masuk ke kamarku mulai menahanku yang bergelinjang tidak beraturan. Mereka mencoba menenangkanku. Tolongin gue… tolongin gw” aku meracau tidak jelas kepada mereka.

Dalam lenguh nafasku yang memburu dan dalam lekap kedua teman kontrakanku, aku mencoba melihat ke belakang dimana sosok besar yang tadi mencengkeramku berada. Namun sosoknya telah lenyap tak berbekas.

Setelah kejadian menyeramkan itu aku terkena demam tinggi sekitar seminggu. Beberapa dokter yang aku temui telah memberikan obat, namun entah kenapa deman tak kunjung turun dan seluruh badanku terasa nyeri minta ampun.

Aku menceritakan kejadian ini kepada Ramon, Arga dan Doni yang pada malam itu ikut menikmati tembakau gorila bersamaku. Mereka mengira itu hanyalah efek halusinasi yang disebabkan karena aku terlalu banyak menghisap tembakau gorila malam itu, ditambah aku juga cukup banyak minum alkohol.

Namun, bagiku yang mengalaminya sendiri. Aku merasa bahwa kejadian itu bukanlah disebabkan oleh hal-hal tersebut. Peristiwa seram itu terasa sangat nyata. Semenjak saat itu, setiap kali aku clubbing dan ada seseorang menawariku tembakau gorila, aku tidak mau menghisapnya barang sekali.

Beberapa minggu semenjak kejadian itu, aku baru tahu dari penuturan pihak keamanan dan gosip yang beredar dari para warga perumahan tempat kontrakanku berada.

Menurut cerita yang beredar, ada isu yang mengatakan bahwa ada satu rumah kosong yang tidak dihuni. Pemiliknya telah meninggal dan dimakamkan diluar kota. Banyak orang menyangka bahwa pemilik rumah tersebut memelihara sosok astral (banyak yang mengatakan itu adalah genderuwo).

Karena pemiliknya telah meninggal, peliharaannya berkeliaran tanpa tahu arah tujuan. Makhluk itu sering menampakkan diri di sekitar kompleks dimalam-malam tertentu.

Aku tertegun dan mengingat kejadian malam itu. Ketika aku pulang, aku sempat berpapasan dengan makhluk itu dan melemparnya dengan kerikil. Mungkin dia marah dan akhirnya mendatangiku.( Gadhir )

Komentar

News Feed