oleh

Penguatan Kapasitas Pemuda Dalam Pencegahan Konflik Berbasis Early Warning System

Makassar | Keragaman budaya dalam konteks peradaban, tradisional hingga ke modern dan kewilayahan adalah kekayaan tersendiri bagi Indonesia. Akan tetapi keragaman tersebut berbanding lurus dengan potensi konflik yang bisa melibatkan banyak kalangan diantaranya pemuda dan Mahasiswa. Menyikapi fakta tersebut, pelibatan pemuda dapat menjadi bagian strategis dalam mengurangi konflik dengan kekerasan, salah satunya adalah dengan cara penguatan kapasitas pemuda.

Dalam hal ini, peningkatan pengetahuan dan keterampilan pengelolaan atau mitigasi konflik meliputi pencegahan, penanganan pada saat konflik dan pemulihan pasca konflik melalui pelatihan pencegahan dan resolusi konflik serta implementasi Early Warning System.

Adapun jumlah Peserta sebanyak 20 orang yang dipilih dari berbagai organisasi kepemudaan, juga kegiatan tersebut dilaksanakan secara bersamaan di masing-masing daerah meliputi Jakarta, Makassar, dan Jayapura.

Menurut penanggung jawab kegiatan di Makassar, Samsang yang juga Direktur Eksekutif di Yayasan Masagena Centre ini, “Kegiatan tersebut akan difokuskan pada pengetahuan dan keterampilan yang meliputi pentingnya pencegahan konflik, mediasi dan negosiasi konflik yang meliputi mekanisme, taktik dan kode etik, pemulihan pasca konflik, serta Penerapan Sistem Peringatan Dini berbasis aplikasi”.

Kegiatan tersebut merupakan rangkaian kegiatan keempat dalam dua tahun terakhir (2017-2018) yang diimplementasikan melalui program “Pemberdayaan Pemuda untuk Pembangunan Demokrasi Tanpa Kekerasan”, kegiatan ini diselenggarakan oleh LP3ES bekerja sama dengan Yayasan Masagena Center dan Ilalang Papua dengan didukung UNDEF tambah Perempuan yang juga mantan aktivis di KNPI Sulsel.

Lebih lanjut Samsang tambahkan Kegiatan yang dilaksanakan 13-15 Agustus ini di Hotel Kenari Tower juga menghadirkan Narasumber selain dari LP3ES, UNDEF, juga menghadirkan Budayawan Alwy Rachman, Akademisi Unhas Dr. A.M. AKhmar, S.S., M. Hum, juga Peneliti sekaligus Arkeolog, M. Irfan Mahmud, S.S., M.Si. Kegiatan ini juga akan diisi denga program Out Class melalui kunjungan ke Universitas Negeri Makassar dan ke Beberapa daerah yang memiliki History Konflik di Makassar.

Program Out class ini ditujukan untuk lebih memperdalaman pemahaman para peserta tentang bagaimana penanganan konflik dari pihak-pihak yang selama ini menjadi tokoh dari keberhasilan memediasi kedua kelompok yang berseteru. (Yudhy)

Komentar

News Feed