oleh

Melawan Maut, Pengabdian Alumni SM-3T Bela Negara

Matarakyatamu.com | Program Sarjana Mendidik di Daerah 3T (SM-3T) memang telah dihentikan sejak tahun 2016. Tetapi semangat mengabdi dari teman-teman alumni belum juga berakhir bahkan hingga detik ini. Barangkali karena tahu realitas bahwa jauh di pelosok sana, masih begitu banyak yang membutuhkan mereka.

Dedikasi Guru SM-3T tidak lagi elok bila kau pertanyakan. Meski harus diakui, mereka pun sebenarnya dihantui dengan kisah pilu dari sahabat-sahabat di medan juang. Berita tentang sahabat yang meninggal karena sakit di tanah pengabdian, berita tentang sahabat yang tenggelam di sungai, bahkan berita tentang sahabat yang terseret arus laut dan tidak lagi ditemukan. Ada pula beberapa sahabat yang kembali dengan kondisi sakit. Bahkan ada sahabat kita yang terkena malaria di Papua dan membuatnya hingga sekarang harus bolak balik ke rumah sakit. Mungkin tidak ada salahnya bila setelah membaca kalimat ini, kita berhenti sejenak lalu mengirimkan doa untuk mereka. (Silakan berdoa sesuai keyakinan masing-masing). Aamiin..!

Kisah lain turut pula menempa. Setahun di tanah pengabdian mengajarkan mereka perihal bagaimana perih harus diperam. Tidak bisa berbuat apa-apa saat mendengar keluarga yang sakit. Atau bahkan tak bisa lagi pulang ketika baru mendengar berita duka yang sebenarnya sudah lewat berhari-hari karena telepon genggam begitu susah dijangkau sinyal. Saya yakin, kau akan sangat bisa membayangkannya.

Menjadi guru SM3T memang tidak serta merta menjadikan mereka sebagai pahlawan pendidikan atau semacamnya. Tidak pula lantas membuat mereka merasa punya peran lebih dibanding yang lain. Mereka hanya berusaha melakukan hal terbaik semata-mata untuk mencerdaskan Indonesia hingga ke pelosok yang bahkan hanya bisa dijelajahi dengan jalan kaki atau perahu ketinting. Saya hanya ingin mengabarkan kepadamu bahwa pada saat mereka sudah ditarik dari tempatnya mengabdi, orang-orang sekampung mengantarkan mereka ke dermaga, ke rakit-rakit, ke pinggiran jalan yang tak pernah tahu bentuk aspal, sambil diiringi tangis dan pertanyaan, “Kapan ke sini lagi?”. Barangkali dengan penggambaran yang saya berikan ini cukup bagi anda untuk menarik kesimpulan.

Mereka semua telah alumni, sebab seperti yang dituliskan di awal, program ini memang telah dihentikan. Tetapi semangat mengabdi masih berkobar-kobar di dalam dada. Di bawah payung bernama Masyarakat SM-3T Institute. Mereka tetap saling memotivasi, saling menginspirasi, bahu membahu demi pendidikan yang merata ke seluruh negeri. Catat: tanpa imbalan apa-apa.

Di tempat duduk mereka saat ini, masing-masing tetap kukuh menyebarkan semangat pendidikan. Dengan caranya masing-masing. Dengan nyala semangat SM-3T yang sama. Dengan tekad Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia. Hingga ke pelosok negeri. Tentang siapa yang lebih hebat, apakah pantas pengabdian itu diperbandingkan?

Tentang mengapa pendidikan begitu penting disebarkan, dari kacamata jomblo mungkin begini: pendidikan memang tidak menjamin kita mendapatkan pekerjaan atau jabatan yang bisa meluluhkan hati calon mertua, tetapi tanpa pendidikan anda akan berpeluang mendapatkan penolakan yang jauh lebih menyakitkan bukan? (Irna)

Komentar

News Feed