oleh

Waduh, Aset SMKN 1 Gowa Dijual ke Siswa

-Daerah-1.722 views

GOWA, Kelas Axioo adalah program pendidikan sesuai kebutuhan industri lewat program penyusunan kurikulum, workshop bagi guru, pembelajaran berbasis IT dan validasi sertifikasi bertaraf internasional. Program ini memberikan pelatihan terpadu kepada siswa dan guru. Belakangan program ini dinilai bermasalah di SMKN 1 Somba Opu, Gowa.

Pihak Axioo Indonesia menunjuk PT. Mabito Karya sebagai perusahaan untuk mewakili kerja sama Axioo class Program dengan institusi pendidikan di seluruh Indonesia dan luar negeri.

Program ini diduga disalah gunakan mantan kepala sekolah SMKN 1 Somba Opu untuk kepentingan dan keuntungan pribadinya dengan menjual ke siswa hingga dialamatkan tudingan terjadi pungutan liar dalam pelaksanaan program kerja sama ini.

Pengungkapan dimulai dari penjelasan Ramli, pada tahun 2015 bertugas sebagai pengawas internal Dinas Pendidikan Provinsi Sulsel, membenarkan SMKN 1 Somba Opu memiliki satu kelas mengikuti program kelas Axioo dengan jumlah 27 siswa .

Saat itu dirinya sebagai pengawas internal wajib menginventarisir dan memeriksa semua aset dan arsip keuangan saat serah terima jabatan dari pejabat lama ke pejabat baru.

Masih menurut Ramli, pada pembukuan bendahara ditemukan pembayaran angsuran laptop merk Axioo, terdapat transaksi pembayaran sekitar 17 juta  dengan rincian empat siswa telah melunasi dan selebihnya tertunggak dari harga laptop Rp. 5.490.000, tetapi diangsur 6 kali oembayaran.

Diketahui, Dinas Pendidikan Gowa menggelintorkan anggaran sebesar Rp 300 Juta dialokasinya pada kerjasama antara SMKN 1 Somba Opu dengan pihak Authorized Axioo Education Partner pada tahun 2015-2016. ” Kenapa siswa dibebani membeli laptop dengan cara kredit padahal sudah ada anggarannya dari pemerintah,” Hertasnim, dari LSM L-Pace.

Kepala SMKN 1 Somba Opu, Drs M Yusuf, saat dikonfirmasi Rabu, 5 September 2018 membenarkan anggaran 300 Juta untuk belanja peralatan. Anggaran tersebut dibelanjakan Laptop merk Axioo.

“Laptop itu aset sekolah tapi dijual ke siswa oleh pejabat lama dan sudah diperintahkan untuk mengembalikan anggaran sebesar 250 juta sesuai hasil pemeriksaan Inspektorat tapi sampai sekarang belum dilakukan, mohon saya harus buka ini masalah karena tidak ingin dituding miring sebagai orang paling bertanggung jawab,”tutupnya. (SDM)

Komentar

News Feed