oleh

Wujudkan Perdamaian Dunia, Begini Ajaran Lontara

Makassar | Hari Perdamaiana Internasional (Hari Perdamaian Dunia) selalu diperingati pada tanggal 21 September. Lewat momen itu, berbagai organisa LSM dan masyarakat memperingatinya dan mengkampayekan akan pentingnya perdamaian dalam kehidupan, berbangsa dan bernegara.

Hari Perdamaian Internasional pertama kali diperingati tahun 1982, dan dipertahankan oleh banyak negara, kelompok politik, militer, dan masyarakat. Pada tahun 2013, untuk pertama kalinya, hari peringatan ini didedikasikan oleh Sekretaris Jendral PBB untuk Pendidikan perdamaian sebagai sarana pencegahan yang penting untuk mengurangi peperangan yang berkelanjutan.

Losari sebagai tempat yang menjadi target untuk melakukan aksi damai dan melakukan berbagai aksi simbolis sebagai wujud perdamaian dan mengajak setiap orang untuk hidup damai dan saling menghargai antar sesama.

Disisi lain, perdamain itu bukan hal yang baru dikenal oleh manusia, orang bugis Makasaar sebagaimana yang tertuang dalam ajaran Lontara (Kitab Lontara) mengajarkan manusia untuk  menjaga perdamaian antara sesama.

Ajaran Lontara Seperti “Sipakatau, Sipakainge, dan Sipakalebbi”

Muh. Abu Naim  menjelaskan bahwa “Masyarakat tentu harus menjaga perdamaina, terkhusus masyarakat Bugis Makasaar harus menjunjung tinggi nilai nilai yang diajarkan oleh kitab Lontara”. Jelas Aktifis Pemuda Anti Kekerasan tersebut dari Lembaga Masagena Centere. Minggu (23/9)

Lebih lanjut Naim jelaskan “Sipakatau” merupakan Sikap yang memanusiakan manusia seutuhnya dalam kondisi apapun. Kita seharusnya saling menghormati sesama manusia tanpa melihat dia miskin atau kaya atau dalam keadaan apapun.

“Sipakainge” merupakan sifat saling mengingatkan yang harus dimiliki oleh setiap manusia demi keseimbangan kehidupan.

“Sipakalebbi” adalah Sifat manusia yang selalu ingin dihargai. Maka sifat Sipakalebbi ini adalah wujud apresiasi. Sifat yang mampu melihat sisi baik dari orang lain dan memberikan ucapan bertutur kata yang baik atas prestasi yang telah diraihnya. Bertutur kata yang baik antara yang muda dan tua juga termasuk sipakalebbi.

“Pada kegiatan ini kami mengajak masyarakat Bugis Makassar untuk menandatangani petisi perdamaian, sebagai wujud dukungan masyarakat akan pentingnya perdamaian. Tutup Naim

Di akhir aksi tersebut, masyarakat diajak untuk melepaskan burung Merpati sebagai simbol perbadamaian dunia. (Yudhy)

Komentar

News Feed