oleh

Ratapan Petani Dihari Tani

Catatan Anak Petani Dihari Tani. Makassar (24/9/2018)

Makassar | Penetapan hari tani didasarkan pada hari kelahiran Undang-Undang No 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria, lebih dikenal dengan UUPA.

Alasannya UUPA menjadi hari pertanian adalah karena salah satu isi UUPA mengatur tentang ketetapan hukum bagi pelaksanaan redistribusi tanah pertanian (reforma agraria).

Ditetapkan kelahiran UUPA sebagai hari tani dengan pemikiran bahwa tanpa peletakan dasar keadilan bagi petani untuk menguasai sumber agraria, seperti tanah, air, dan kekayaan alam, mustahil ada kedaulatan petani.

“Saat ini, Petani dikenal sebagai Pahlawan tanpa tanda jasa”. Kalimat ini kerap didengungkan menjadi bahan penyemangat dan diskusi diantara para pendamping petani.

Petani bekerja tak henti dibawah terik dan tindasan sistem kapitalisme, menyediakan pangan untuk jutaan manusia. Namun keuntungan bagi mereka tak seberapa.

Sangat Ironis, sebuah Negara yang mengklaim sebagai Negara agraris. Petani adalah pahlawan, namun benar terlupakan. Hari Tani Nasional pada 24 September yang seyogyanya bisa menjadi satu momentum tahunan untuk mengingat perjuangan petani dan menjadi momen untuk merancang gerak pembangunan petani semakin terlupakan. Bahkan dikalangan penggerak petanipun hari ini terlupakan.

Hari Tani ada bukan untuk sekedar berhura, tapi lebih tepat dimaknai sebagai momen perubahan  tahunan, sama seperti halnya evaluasi akhir tahun sebuah perusahaan atau lembaga.

Hari Tani terlupakan, padahal Keppres No 169 Tahun 1963 yang menetapkan bahwa tanggal 24 September sebagai hari tani sampai hari ini tidak pernah dicabut. Sejarah Hari Tani Nasional perlu kita gali kembali.

Keluhan dan terikana para petani disebabkan menurunya harga jual hasil tani dan juga mahalnya biaya produksi. Mahalnya obat obatan dan kelangkaan pupuk bersubsidi yang menjadi hambatan akan keberhasilan dan rawan akan gagal panen.

Teriakan dan tangisan para petani diterik matahari dan hujan tidak pernah di dengarkan oleh pemangku kepentingan di Negara agraria. Undang undang yang dibuat hanya sekedar ilusi bagi petani, karena aturan itu tidak mampu mengcover kepentingan petani.

Latihan dan bimbingan sangat dibutuhkan oleh petani untuk berkembang dan beralih dari cara yang klasi menuju petani moderen, gagasan itu hanya sebatas ide basi dan tidak berguna apa karena para penguasa hanya berpikir untuk kepentingan pribadi dan melaksanakanya sebagai eforia saja. (Yudhy)

Selamat Hari Tani Wahai Para Petani

Komentar

News Feed