oleh

Menguji Nyali KPK Soal Dugaan Suap Tito Karnavian

JAKARTA | Tito Karnavian kini jadi gunjingan menerima suap dari seorang pengusaha terjerat hukum saat menjabat Kapolda Metro Jaya. Penggiat anti korupsi pertamyakan nyali pimpinan KPK menelisik kasus ini.

Kapolri Tito Karnavian dikabarkan menerima sekitar suap Rp 8 milyar dari Basuki Hariman, direktur CV. Sumber Laut Perkasa dan terkuak dalam kasus suap mantan Hakim Konstitusi Patrialis Akbar dan Bambang Bajuku pada buku Merah kasus keduanya.

Awal kabar suap berhembus dari mantan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bambang Widjojanto, mengeluarkan keterangan pers terkait hasil investigasi bersama media yang tergabung dalam Indonesialeaks.

Bambang memberi statemen memohon dan kritis terhadap indikasi kongkalingkong pada kasus dugaan perusakan dan hilangnya barang bukti catatan keuangan buku bank berwarna merah yang berisi aliran dana diduga untuk pejabat negara dan pejabat Polri.

Indonesialeaks merilis hasil investigasinya yang diduga melibatkan para petinggi penegak hukum dan indikasi kongkalingkong untuk menutupi rekam jejak kasus ini.

Menurut mantan direktur LBH ini,  buku catatan bank besampul merah atas nama Serang Noor IR itu memuat indikasi transaksi kejahatan tapi juga fakta adanya tindakan merobek 15 lembar catatan transaksi ‘jadah’ atas buku bank dan sapuan tipex di atas lembaran alat bukti.

Kejadian ini telah diketahui penyidik KPK lainnya dan terekam CCTV di ruang kolaborasi lantai 9 gedung KPK pada 7 April 2017.

Kata Bambang Widjojanto lagi adalah keterangan saksi Kumala Dewi Sumartono terhadap rincian cacatan laporan keuangan CV Sumber Laut Perkasa tidak ada dalam berkas perkara.

Padahal, lanjut Bambang menjelaskan, dalam BAP yang dibuat penyidik KPK, Surya Tarmiani pada 9 Maret 2017, catatan transaksi itu ada. Dalam dokumen itu bahwa nama diduga Tito Karnavian tercatat paling banyak mendapat duit dari Basuki, langsung maupun melalui orang lain. Baik ketika menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya, Kepala BNPT pada maret-Juli 2016 maupun ketika sudah dilantik sebagai Kepala Kepolisian RI.

Ditegaskan Bambang Widjojant, kasus ini sekaligus mempertanyakan posisi hukum dan nurani keadilan. Kejahatan ini terjadi di depan mata, hidung dan telinga para komisioner KPK. Karena itu, tidak ada pilihan, bahwa pimpinan KPK harus bertindak melawan kejahatan yang makin sempurna.

Katanya, apakah benar sudah ada pemeriksaan dua penyidik diduga pelaku pengrusakan dan menghilangkan barang bukti  yang saat ini telah dikembalikan ke institusi Polri, untuk ditindaklanjuti oleh Dewan Pertimbangan Pegawai.

Terakhir,  Bambang juga mempertanyakan nyali pimpinan KPK untuk mengusut tuntas kasus dugaan suap terhadap Kapolri Tito Karnavian. “KPK sementara diuji publik apakah punya nyali mengusut kasus ini hingga tuntas minimal memanggil dan memeriksa Tito Karnavian, “ujar Bambang lagi.

Menanggapi hasil investigasi IndinesiaLaeks, Kepala Divisi Humas Polri,  Irjen Setyo Warsito menanggapi jika laporan yang diturunkan Indonesialaeks itu isu lama. “Oh,  itu isu lama sejak 2017,” ujarnya.

Tito Karnavian juga telah membantah tudingan korupsi yang dialamatkan kepada dirinya sejak Agustus lalu. Ia membantah telah menerima suap dari pengusaha Basuki Hariman seperti dituduhkan. (bB)

Komentar

News Feed