oleh

“Atja” di Mata Ahmad Amiruddin

 

Makassar | Bulan – bulan pertama permulaan tahun 1973, saat saya mulai memimpin UNHAS, kehidupan di kampus cukup menyita pemikiran.

Bukan hanya persoalan internal organisasi kemahasiswaan yang semrawut, tetapi perkembangan politik Nasional ketika itu banyak menyulut aksi – aksi mahasiswa.

Kedatangan P.M. Jepang Tanaka, disambut dengan demonstrasi Jakarta, yang berakhir dengan Anarkhi.

Ini disusul kemudian dengan terbitnya SK No. 28 dari Menteri Syarief Thayeb dan mencapai puncaknya pada aksi – aksi mendatang, Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK).

Sejak mulai menghuni rumah jabatan di Jalan Kartini, para tokoh mahasiswa silih berganti datang, baik untuk memajukan keberatan pada beberapa kebijakan yang saya ambil, memajukan saran – saran, maupun untuk mengetahui berbagai perkembangan di tanah air.

Salah satu diantara mereka ini adalah “Atja”. Saya sudah tidak ingat lagi kedudukan “Atja” dalam struktur organisasi kemahasiswaan UNHAS waktu itu.

Yang masih teringat dia banyak bergerak dalam kegiatan seni budaya. Ikut dalam kesenian budaya. Ikut dalam berbagai kegiatan kesenian mahasiswa UNHAS dan Dewan Kesenian Makassar.

Minatnya pada kegiatan baca puisi sangat menonjol. Bersama beberapa temannya secara teratur mereka mengundang seniman, baik lokal maupun nasional, untuk membaca puisi di kampus UNHAS.

Baca puisi waktu itu, nampaknya cara untuk menyalurkan unek – unek mahasiswa terhadap berbagai ketimpangan di tanah air.

“Atja” merupakan salah satu tokoh yang sering menjadi penghubung dengan pimpinan Universitas.

Dengan suara dan senyumnya yang khas, serta gaya bicaranya yang blak – blakan, dia berusaha dengan gigih meyakinkan orang mengenai pendiriannya.

Memang dia sangat teguh pada apa yang diyakininya. Berkali – kali dia dapat marah dari saya, tapi dia tidak pernah berubah, tetap akrab.

Memang biasanya kalau ada kemauannya saya tidak langsung menolak, tapi hanya menggambarkan pelbagai resiko kalau dia salah ambil keputusan.

Kesalahan membaca situasi ini, pada suatu ketika harus ditebusnya dengan mahal, ditahan oleh penguasa. ( Ahmad Amiruddin, Rektor Unhas periode 1974 – 1982 )

Komentar

News Feed