oleh

Kadar Nikotin Rendah Lebih Berpotensi Menyebabkan Kanker Paru

-Aneka-939 views

Matarakyatmu.com | Kepergian istri Indro warkop (9/10) masih menyisahkan sedih bagi keluarga. Nita Octobijanthy tutup usia 59 tahun karena kanker paru – paru yang dideritanya di MCC, Kuningan, Jakarta Selatan. Anehnya penyakit ini baru muncul setelah 2 tahun Nita memutuskan berhenti merokok.

Nita termasuk salah satu dari 1,59 juta orang meninggal akibat penyakit ini. Dilansir dari kompas.com, dr. Elisna Syahruddin, SpP(K), PhD menyebutkan,” Kalau ada 10 orang yang diagnosis mengidap kanker paru, delapan orang diantaranya meninggal pada tahun itu juga. Itulah kenapa kanker paru disebut kanker yang mematikan. Karena pada umumnya kanker paru ketemunya sudah stadium lanjut jadi tidak bisa dilaksanakan terapi secara maksimal.”

Rokok sudah diketahui sebagai penyebab utama dari kanker paru. Pada kenyataannya tidak semua perokok menderita kanker paru bahkan orang yang tidak merokokpun ada yang menderita penyakit ini. Meskipun perkembangan penyakit ini masih menyisahkan banyak teka – teki bagi para ilmuan, namun sedikit demi sedikit sudah mulai terkuak.

Dalam penelitian Clare Weeden dari Universitas Melbourne di Australia menguak, kanker paru berkaitan dengan senyawa yang kita hirup dan perkembangan sel bunca basal.

“Saat kita menghirup sesuatu seperti rokok, sel –sel basal akan menerima sinyal untuk tumbuh dan memperbaiki kerusakan tersebut,” kata Weeden.

Semakin banyak senyawa yang merusak maka akan semakin aktif sel punca basal mempebaiki. Sayangnya keaktifan ini juga semakin meningkatkan resiko mutasi. Sekali sel bermutai maka lahirlah bayi kanker yang akan terus tumbuh jika tubuh tidak sanggup mengatasi.

Spesialis paru di RS Persahabatan , Dr Sita Laksmi Andarini, SpP(K), PhD pada kompas.com mengatakan bahwa perokok aktif beresiko 13,6 kali lipat sedangkan perokok pasif beresiko 4 kali lipat terkena kanker paru.

Perokok salah mengartikan rendahnya kandungan nikotin pada rokok yang tertera pada label itu membuat mereka lebih aman dari penyakit.

Nyatanya nikotin hanya salah satu zat karsinogen yang memicu terjadinya kanker paru.

“Nikotin itu lebih dominan pada adiksi atau kecanduannya. Semakin lemah kadar yang diberikan, orang yang  ketagihan akan cenderung merokok lebih banyak. Akibatnya, iritasi lebih banyak dan resiko lebih tinggi,” kata Elisa.

Dengan asumsi bahwa kadar nikotin lebih rendak, perokok akan semakin sering membakar rokoknya. Intensitas rokok yang lebih tinggi menyebabkan sel bucal lebih reaktif untuk memperbaiki. Kereaktifan itu pula akan semakin meningkatkan resiko mutasi sel yang melahirkan bayi sel kanker paru.

Berhenti merokok adalah pilihan bijak untuk kesehatan anda. Namun, wanita dari Departemen Pulmonologi dan Ilmu Respirator, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia ini juga mengingatkan, butuh waktu 15 tahun setelah berhenti merokok untuk mengembalikan kondisi paru sama dengan orang tidak merokok. -Irma

Komentar

News Feed