oleh

Mengenal Hunian Sementara Anti Gempa Untuk Korban Bencana Palu

-Aneka-787 views

Dalam beberapa bulan terakhir di semester kedua 2018, beberapa wilayah seperti Lombok Utara, Palu dan Donggala serta Situbondo diguncangkan dengan sejumlah bencana gempa bumi.

Sama seperti Lombok Utara dan Situbondo, Palu serta Donggala diketahui mengalami banyak kerugian material. Hingga saat ini, dilansir dari Bank Dunia, total kerugian telah mencapai 8,07 tirilun rupiah. Adapun salah satu sektor yang mengalami kerugian terbesar diketahui merupakan sektor properti.

Dari total kerugian yang terhitung, sekitar 2,75 triliun rupiah merupakan sektor properti hunian masyarakat. Melanjutkan dari perhitungan total kerugian, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menghitung terdapat 66,9 ribu hunian masyarakat yang mengalami kerusakan dari seluruh tingkat kerusakan dari wilayah yang terkena bencana gempa dan tsunami pada akhir September silam.

Mengingat sektor infrastruktur properti menjadi sektor yang mengalami kerusakan paling parah, Pemerintah memberikan perhatian melalui pembangunan hunian sementara (HUNTARA) sebagai tempat bermukim para korban bencana.

Untuk mewujudkan sebuah hunian yang cepat selesai dan segera siap untuk dihuni, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kementerian PUPR) menggunakan teknologi pada unit mengenal-risha-teknologi-rumah-tahan-gempa.

(RISHA) dan rumah instan kayu (RIKA) yang kini banyak dikembangkan di beberapa wilayah Jawa, Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi. Kedua tiper rumah yang akan segera dikembangkan ini merupakan hasil penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kementerian PUPR pada 2012 yang memadukan teknologi bongkar pasang dalam ukuran rumah sederhana dengan material ramah lingkungan.

Keduanya diketahui dikembangkan dengan teknologi anti gempa yang dapat menahan guncangan hingga 8 skala ritcher tergantung kompleksitas struktur konstruksi rumah tersebut. Salah satu keunggulan keduanya yakni baik RISHA maupun RIKA daat dibangun dalam berbagai kondisi lahan.

Tipe rumah RISHA diketahui menggunakan bahan dasar beton bertulang yang struktur pembuatnya dipasangkan menggunakan baut tanpa campur tangan semen dan bata. Produk inovasi rumah anti gempa tersebut diketahui hanya menelan biaya sangat murah yang berkisar minimal 25 juta hingga 27 juta.

Dalam pembuatannya, rumah instan sederhana sehat hanya menelan waktu 6 jam hingga 2 hari, tergolong teknologi hunian yang dapat diselesaikan sangat cepat dan sangat cocok untuk korban bencana.

Tidak heran dalam bencana gempa sebelumnya di Lombok, proyek perumahan RISHA dijadikan oleh pemerintah sebagai hunian sementara prioritas untuk para korban bencana. Dari sisi ketahanan bangunan, RISHA diketahui merupakan bangunan yang tahan lama yang dapat bertahan hingga 50 tahun.

Jika RISHA menggunakan beton bertulang, tipe rumah RIKA merupakan rumah sederhana yang menggunakan struktur konstruksi berbahan dasar kayu olahan ramah lingkungan diketahui merupakan kayu rekayasa yang dikembangkan oleh Litbang Kementerian PUPR yang kualitasnya setara kayu kualitas 1 untuk pembangunan properti. Meskipun dalam pembangunan satu unit RIKA yang membutuhkan waktu yang tergolong cepat, proses pembangunan tidak lebih cepat dari pembangunan satu unit RISHA, yaitu berlangsung minimal 3 hari. Untuk ketahanan hunian, RIKA pun memiliki ketahanan setara dengan rumah dengan struktur bata dan semen yakni memiliki ketahanan minimal 20 tahun.

Semenjak pengembangan awal pada 2012 hingga saat ini, Balitbang Kementerian PUPR berhasil mengembangkan beragam ukuran tipe RIKA mulai dari luasan 27 m2, 36 m2, 54 m2, hingga luasan 72 m2 dengan ketinggian bangunan rumah dua lantai. Untuk satu unit hunian RIKA, biaya pembangunan hanya membutuhkan 24,6 juta rupiah di luar dari harga jual tanah.

Komentar

News Feed