oleh

Duka Sang Putri Dae Minga Menuju Moti La Halo

-Aneka-2.447 views

Bima | Legenda kematian Dae Minga berawal dari peristiwa yang terjadi di kerajaan sanggar. Pada waktu itu para lelaki mulai dari kalangan bangsawan sampai rakyat rela bertika dan menumpahkan darah karena merebut ingin mempersunting Dae Minga

Kian hari pembunuhan dan kematian tak terelakan, bumi moti la halo penuh dengan simbah darah dan duka lara nestapa atas pertikaian tersebut

Dae Minga merupakan putri  yang begitu cantik jelita dari kerajaan Sanggar di Desa Kore Kecamatan Sanggar Kabupaten Bima NTB, Masyarakat menilai kecantikanya dan mengatakan bune saninu (seperti kaca). Kemolekan parasnya terngiang sampai ke pelosok negeri. Para ayu Dae Minga menggoda setiap lelaki yang memandangnya

Desas desus akan pertikain dikarenakan paras ayu Dae Minga pun tersebar sampai ke Negeri Eropa. Banyak para pangeran sakti matra guna dari sana yang datang untuk menunjukkan kehebatanya guna untuk mempersunting Dae Minga.

Kedatang para pangeran kasatrian dari berbagai kerajaan yang mempertunjukkan kehebatanya tidak mampu merubah pendirian Dae Minga, melainkan keputusan itu hanya bisa mecucurkan darah di atas bumi sejuta misteri.

Pentas seni budaya, drama pertikaian merebut dae minga

Kian hari kematian kian bertambah yang membuat Dae Minga merenung diri. Rasa penyesalan dan tak terima akan kecantikannya mulai muncul pada dirinya. Hidup mulai tak tenang karena dihantui oleh kematian disebabkan olehnya. Gundah gulana becampur kesedihan terlihat pada raut mukanya yang merah mempesona.

Hari demi hari tanah sanggara di diliputi kesedihan dan duka. Ratapan dan tangisan seorang ibu  bak guntur membelah langit diatas bumi Tambora terdengar di setiap sudut sudut rumah duka. Kehidupan masyarakat yang aman dan damai kini telah berubah menjadi negeri duka, ya, duka karena kemolekan paras seorang putri yang dilahirkan di atas bumi Sanggara

Tibalah dia  pada sebuah keputusan dari perenungan panjangnya atas duka yang selalu melilit kehidupannya. Dae Minga memutuskan untuk meninggalkan kampung halaman menuju sebuah tempat, dimana tempat tersebut tidaklah terlalu jauh dari kerajaan sanggar. Keputusan itu diambil untuk mengakhiri duka negeri sanggara

Sebelum keberangkatanya, dae Minga meninggalkan pesan yang membuat haru masyarakat setempat. Dalam pesannya bahwa dia rela meninggalkan dunia ini demi terwujudnya perdamaian.

“Nahu ku Laora aka dunia makalai, lao paki weki di ru’u ba mori ra woko ana tato’i dou Kore. tohopa ra ndai kese, sura ndi mori kai ana ta to’i ta kaso”. pesan Dae Minga pada masyarakat

Keputusan yang diambil olehnya hanya bisa dikenang lewat air mata oleh masyarakat yang ada. Dia merubah darah menjadi air mata dan dia rela memisahkan jiwa dari raganya hanya untuk perdamaian

Dae Minga menyadari bahwa kecantikannya bukanlah hal yang dibanggakan, melainkan baginya adalah petaka bagi masyarakat. oleh sebab itu, sembari melangkah kaki dan menoleh kebelakang menyampaikan sumpa terakhir untuk generasinya

“taho taho pu ambi kone na da ntika, wati ipi ntika pala na ambi-ambi mena”. Sumpahnya

Langkah kaki dae Minga terasa berat melepaskan rindu pada masyarakat, hati terasa ingin menolak, namun apalah daya kiranya terjadi melainkan keputusan harus bulat menuju moti la halo (istilah lain kawah hunung tambora) sebagai tempat kediaman terakhirnya.

Penulis :  Jiad & Arif  Suriansyah
Editor : Shauky

Komentar

News Feed