oleh

Ricuh, Demo Buruh di Kantor Bupati Maros

MAROS0|| Aksi demonstrasi yang dilakukan oleh Gabungan Serikat Buruh Nusantara (GSBN) yang dipimpin langsung oleh koordinator aksi, Ari Mustari di kantor Bupati Maros, berakhir ricuh, Selasa (12/2/2019).

Awal mula kericuhan terjadi saat, pertemuan mediasi dan diskusi berlangsung antara kelompok GSBN yang dipimpin oleh Ari Mustari, dan pihak pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maros, Provinsi Sulawesi Selatan .

Sementara proses mediasi berlangsung, oknum yang diduga mengatasnamakan perwakilan buruh Serikat Buruh Seluruh Indonesia (SPSI) dan Pemuda Pancasila (PP) Cabang Maros, ditengarai mencoba menyusup dan menggangu pertemuan yang sementara dilakukan oleh pihak GSBN dan Pemkab Maros .

Dimana Saat itu, adu mulut serta perdebatan terjadi didalam auditorium Pemkab Maros, antara kelompok GSBN dengan buruh SPSI Maros yang dipimpin oleh Aswar .

Perdebatan tersebut didamaikan oleh pihak Kepolisian dan Satpol PP. SPSI kemudian meninggalkan ruang Baruga, diduga kelompok yang mengatasnamakan SPSI ini berpihak kepada perusahaan 88 .

Perwakilan SPSI, Aswar keberatan dengan tuduhan keberpihakan tersebut. Ia malah mengancam akan melakukan hal-hal tertentu,
dia juga menolak untuk membantah dugaan tersebut. Ia hanya protes diberitakan atas kedatangannya di kantor bupati, serta kericurahan yang sempat terjadi .

“Saya tidak ingin rilis berita, Karena kita angkatki, makanya kita yang tanggung jawab. Soalnya bukan person yang kita serang tapi lembaga, dan kami minta klarifikasita bukan klarifikasinya kami. Yang jelas Ketua SPSI menunggu 1 x 24 jam,” tulis Aswar melalui pesan WhatsApp, seperti dikutip melalui portal tribunmaros.com (12/0219) .

“Yang kami minta itu, klarifikasita dan permohonan maaf. Karena untuk apa kami buat berita. Karena kami yang diserang, Tidak ada ji mau dibantah. Yang jelas kesimpulannya, secara kelembagaan kami tersinggung dengan beritata,” katanya.

Sebelumnya, GSBN yang dipimpin oleh koordinator aksi, Ari Mustari berdemo di depan kantor Bupati Maros, jalan Jenderal Sudirman.

Buruh protes dengan upah yang diberlakukan oleh perusahaan yang ada di komplek pergudangan 88 Kecamatan Marusu.

Buruh tersebut tidak menerima lantaran diupah Rp 1,2 juta per bulan. Upah tersebut jauh dibawah UMP. Mereka sudah beberapa kali dijanji untuk dinaikan upahnya, namun perusahaan tidak merealisasikannya.

“Kami hanya diupah Rp 1,2 juta perbulan. Upah itu tidak cukup. Hampir semua buruh, sudah berkeluarga. Uang itu hanya cukup untuk digunakan masing-masing buruh. Terus bagaimana dengan keluarga kami,” kata Ari.

” Terkait kericuhan yang terjadi yang disebabkan oleh oknum SPSI, sangat menciderai gerakan perjuangan, secara tidak langsung oknum ini menciderai seluruh organisasi gerakan perjuangan” tegas dikatakan Ari Mustari .

(arif tela)

Komentar

News Feed