oleh

Makna Demokrasi dalam Kompetisi Politik

Matarakyatmu | Politik dan demokrasi memiliki kaitan yang sangat erat sekali. Keduanya memiliki output yang sama yaitu untuk kebijakan dan kepentingan bersama. Makna demokrasi yang sudah sangat jelas yaitu kekuasaan ada ditangan masyarakat, dari rakyat, oleh rakyat, dan kembali untuk rakyat.

Hidup di negara majemuk yang banyak sekali perbedaan membuat demokrasi semakin menarik. Masing-masing pribadi atau kelompok berlomba-lomba untuk menyatakan pendapatnya jika ada yang membuat mereka tidak puas terhadap kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah.

Seorang wakil rakyat atau pemerintah wajib mengerti makna, fungsi, tujuan demokrasi yang sesungguhnya agar pelaksanaan demokrasi memang benar-benar terjadi dengan baik. Masyarakat tidak bisa berbuat banyak selain beraspirasi jika ada kebijakan-kebijakan yang tidak sesuai dengan makna demokrasi.

Sistem negara kita yang demokrasi membuat kita untuk bebas berpendapat dan bersuara untuk kepentingan kita bersama bukan untuk kepentingan kelompok tertentu. Sebagai masyarakat pun seharusnya juga bersuara dan berpendapat sesuai alur dan fakta yang terjadi sesuai dengan aturan berdemokrasi sehingga tidak asal berpendapat dan bersuara saja.

Ilmuwan politik biasanya mendefinisikan demokrasi dalam makna minimal atau maksimalnya. Menurut ilmuwan politik Amerika Robert Dahl dalam bukunya Poliarchy, pengertian minimal demokrasi terdiri dari dua elemen: kontestasi dan inklusi.

Kontestasi mensyaratkan demokrasi memiliki kompetisi untuk jabatan publik. Tidak ada demokrasi tanpa kompetisi. Inklusi berarti demokrasi seharusnya membuka peluang seluas-luasnya bagi individu untuk berpartisipasi dalam demokrasi, terlepas dari latar belakang sosial ekonomi maupun ideologi politik.

Sementara pengertian maksimal demokrasi menginginkan elemen-elemen tambahan dalam definisi minimal demokrasi. Dalam definisi maksimal demokrasi pemilu yang kompetitif dan inklusif tidaklah cukup. Para penganut definisi ini menginginkan sistem demokrasi bergandeng tangan dengan konsep seperti keadilan sosial, kesetaraan gender, ataupun toleransi antar warga negara.

Dalam asumsi ini, demokrasi adalah segala hal-hal baik yang kita idam-idamkan terwujud di dunia ini. Dengan memilih demokrasi, berarti kita juga berharap bahwa hal-hal baik tersebut akan datang.

Dua definisi ini kerap kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Yang paling mudah adalah melihat melalui harapan-harapan politik. Kalau kita cukup puas dengan pemilu yang kompetitif dan inklusif, maka kita cenderung menganut definisi minimal demokrasi sebagai kompas politik sehari-hari.

Di sisi lain, jika kita tidak bisa percaya bahwa, misalnya, masih ada intoleransi dalam sistem demokrasi, kita cenderung memakai definisi maksimal demokrasi untuk membingkai realitas kehidupan. Ketidakpercayaan ini muncul karena dalam pengertian maksimalnya, demokrasi merupakan satu paket dengan cita-cita ideal seperti toleransi.

Kedua definisi tersebut juga memiliki implikasi praktis. Definisi minimal demokrasi beranggapan bahwa keadilan sosial, kesetaraan gender, ataupun toleransi tidak akan turun dari langit. Harapan-harapan ini hanya mungkin terwujud melalui mekanisme kompetisi politik.

Karena itu, pembentukan kelompok politik yang solid menjadi penting. Hanya kelompok teroganisir dengan baik yang dapat merealisasikan visi politik mereka, apa pun visi politik tersebut.

Sementara definisi maksimal cenderung menerima kalau demokrasi berjalan seiring dengan mimpi-mimpi tentang, misalnya, menyempitnya jurang ketimpangan atau berkurangnya diskriminasi terhadap perempuan.

Yang perlu diingat adalah untuk merealisasikan mimpi-mimpi tersebut, warga negara perlu terjun dalam kompetisi politik, dan tidak ada cita-cita ideal tersebut tanpa kapasitas memenangi kompetisi politik.

Muhammad Alif Andyva

Komentar

News Feed