oleh

Sejak Moratorium Kapal Asing, Hasil Laut Sulsel Meroket

Makassar, — Terwujudnya sektor kelautan dan perikanan Indonesia yang mandiri, maju, kuat dan berbasis kepentingan nasional merupakan misi Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan ditopang oleh tiga misi yaitu kedaulatan, keberlanjutan dan kesejahteraan.

Laut sebagai masa depan bangsa dimana laut merupakan penggerak perekonomian bangsa dan menjadi sumber kesejahteraan nelayan.

Untuk mewujudkan misi kedaulatan, keberlanjutan dan kesejahteraan tentu saja penangkapan yang tidak legal, tidak teregulasi dan tidak terlaporkan atau yang dikenal dengan IUU Fishing harus diberantas.

Setelah adanya moratorium kapal ikan asing dan penenggelaman kapal, perlahan-lahan terjadi peningkatan produksi ikan dan kesejahteraan nelayan kian meningkat. Dalam lima tahun terakhir (2013 – 2018), terjadi peningkatan produksi perikanan tangkap nasional sebesar 5,17%.

Pemaparan tersebut disampaikan oleh Zulfikar Mochtar, Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan(KKP) didepan lebih 200 peserta pada Kuliah Umum dengan tema “Transformasi Kebijakan Pengelolaan Perikanan Tangkap : Ikan Melimpah Nelayan Sejahtera, Justru Dilaut Kita Jaya” bertempat di Gedung Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin, Jumat, 22 Maret 2019.

Kuliah umum tersebut dirangkaikan juga dengan perjanjian kerjasama antara KKP dengan sebelas universitas di Indonesia yang memiliki jurusan kelautan dan perikanan. Kerjasama tersebut terkait dengan penempatan mahasiswa sebagai observer pendataan operasional di kapal penangkapan ikan.

Lebih lanjut, Zulfikar menambahkan secara nasional, ekspor lima besar komoditi perikanan di tahun 2018 didominasi oleh udang, tuna, rajungan kepiting, cumi sotong gurita dan rumput laut. Selain itu, terjadi peningkatan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) selama lima tahun terakhir, pada tahun 2014 sebesar 267 miliar meningkat menjadi 645 miliar ditahun 2018.

“Untuk mengoptimalkan dan mendorong industri perikanan, KKP membuat program Sentra Kelautan Perikanan Terpadu dengan mengintegrasikan rantai nilai bisnis perikanan dalam satu lokasi yaitu di pulau-pulau terluar Indonesia. Artinya pembangunan infrastruktur juga menyentuh sampai ke perbatasan” jelas Zulfikar.

Sementara itu, Kepala BKIPM Makassar KKP, Sitti Chadidjah, yang menghadiri kuliah umum tersebut menyatakan untuk Sulsel terdapat lima besar komoditi perikanan dengan jumlah volume ekspor terbesar tahun 2018 yaitu rumput laut, gurita, udang vanamei, tuna dan tenggiri sementara di tahun 2017, volume ekspor terbesar dikuasai oleh udang vanamei, kerapu, tenggiri, gurita dan tuna.

Secara umum volume ekspor perikanan Sulsel naik 27,7 persen menjadi 33,53 juta kg pada 2018 dibanding 2017 sebanyak 26,25 juta kg.

“Sektor perikanan tangkap di hulu menunjukkan peningkatan sumberdaya ikan, sementara karantina ikan di hilir mengawal dan menjamin mutu dan keamanan hasil perikanan yang diekspor keluar negeri aman untuk dikonsumsi” jelas Sitti.

Komentar

News Feed