oleh

Teror Pot Bunga

Senin pagi-pagi buta, 1/7/19, tiba-tiba muncul rekaman cctv tersebar medsos. Beragam tanggapan mengguna medsos yang muncul. Kebanyakan dari mereka menyesalkan. Memandang hal itu tak pantas dilakukan. Kalau protes ke gubernur, mengapa pot bunga jadi sasaran. Andaikan pot bunga itu bisa bicara, mungkin saja akan berkata : Apa salah saya?

Rekaman ini menunjukkan seseorang yang turun dari mobil warna putih tepat di depan rumah jabatan gubernur Sulsel di Jl.Jend Sudirman. Mobilnya kemudian bergerak maju hingga ke sudut persimpangan Jl.S.Saddang – Jl.Jend Sudirman. Sedang orang yang turun dari mobil itu langsung menyambar dua pot bunga hingga jatuh ke badan jalan, dan pecah berantakan. 

Pertanyaannya ialah, siapa gerangan orang yang tampaknya sungguh emosi menjatuhkan dua pot bunga ini? Apa maksud dan tujuannya? Bila tindakannya ini merupakan bentuk protes atau apalah namanya, siapa yang dia protes? Dia melancarkan protes itu dengan alasan apa? 
Ini semua tentu masih dalam konteks mengira-ngira. Bertanya-tanya ada apa gerangan. 

Apakah ada kaitannya dengan pemberhentian — saya tak mengatakan pencopotan – Hatta dari jabatan Kepala Biro Umum Pemprov Sulsel pada hari yang sama? Ataukah merupakan bentuk protes atas ancaman pemberhentian atas 6 kepala OPD yang terbelit masalah duit perjalanan dinas itu? Ataukah gara-gara diberhentikannya dua kepala OPD sebelumnya dengan persoalan yang berbeda? Ataukah sama sekali tak ada kaitan dengan semua itu? 

Entahlah. Semua itu tak ada yang pasti. Orang tak bisa menuduh serampangan. Jangan sampai menjadi fitnah. Yang pasti, kepala Biro Humas dan Protokol Devo Khadafi bilang, persoalan pot bunga ini diserahkan ke Pj Walikota Makassar Iqbal S Suhaeb untuk menanganinya. Biarkan Iqbal yang bekerja. Toh kawasan rujab itu adalah wilayahnya Pemkot Makassar. Biarkan Iqbal yang berurusan dengan pihak berwajib.

Soal siapa orang yang melibas dua pot bunga ini, pastilah cukup mudah mengenalinya, sebab cctv yang merekam aksi ini adalah milik Pemkot Makassar. Dan Pj Walikota tentunya punya alasan kuat untuk melaporkannya ke Polisi. Sebab tindakan ini tampaknya bukan sekadar menjatuhkan pot bunga sampai pecah berserakan, tetapi mengisyatkan ada sesuatu di balik itu. Ada isyarat tentang ketidak-sukaan ke gubernur. Mungkin saja dendam, sakit hati, kecewa, atau apalah namanya.

Media bahkan menyebutnya sebagai bentuk teror yang mungkin saja ditujukan ke diri gubernur Nurdin Abdullah.  Teror yang diarahkan ke diri gubernur Nurdin Abdullah bisa saja terjadi. Jangankan teror, bahkan belakangan ini, bahkan begitu bebasnya gubernur dituding sebagai preman kampung masuk kota, dikatai goblok, sok kuasa, dan lain-lain, dan lain-lain. Dan gubernur ternyata diam saja, dan tak mempersoalkan orang-orang yang demikian kencang memaki-maki dirinya. 

Seolah-olah semua kesalahan adalah milik Nurdin Abdullah, dan yang melancarkan kritikan atau yang lebih cocok disebut caci-maki itu, adalah orang-orang yang merasa paling benar dan paling tak berdosa di atas bumi ini. Sungguhkah itu? Entahlah. Biarkan orang yang menilai, bahwa di negeri ini oleh segelintir orang tampaknya seolah-olah tak ada lagi rasa hormat dan sikap mappattau kepada diri seorang gubernur, bupati atau walikota. 

Bila ada sesuatu yang dipandang salah, ada sesuatu yang dalam posisi beda pendapat, beda pandangan, maka habislah mereka dicaci maki. Diberondong dengan segala rupa hujatan.

Tetapi itulah resiko yang harus ditanggung atas nama demokrasi. Belum lagi seabrek demo yang seolah ingin memaksakan seorang gubernur, bupati atau walikota menjadi malaikat. Mana mungkinlah manusia biasa bisa dijadikan malaikat. Urusan malaikat itu urusan Tuhan, bukan urusan manusia.

Bahwa gubernur Nurdin Abdullah pastilah punya kesalahan dan kekeliruan sebagai manusia biasa. Dia sama saja dengan gubernur-gubernur sebelumnya, pasti punya kesalahan. Itu karena mereka bukanlah malaikat yang diturunkan Tuhan. Mereka adalah manusia biasa yang dipilih jadi pemimpin oleh manusia biasa juga. Dan pasti tak semua orang memilihnya, karena sebagian pasti memilih yang lain.
Hanya saja kebetulan Nurdin Abdullah yang memenangkan pemilihan. Dan boleh jadi ada kelompok lain yang kecewa atas kemenangan Nurdin Abdullah ini. Sungguhkah itu? Entahlah. Tak ada yang pasti. Hanya Tuhan yang maha mengetahui atas semua itu ***

Usdar Nawawi (Wartawan Utama Dewan Pers)

Komentar

News Feed