oleh

Razia Buku “Kiri” oleh Ormas Memicu Reaksi Sastrawan

BANTAENG — Kabar tentang adanya razia buku yang dilakukan organisasi masyarakat (Ormas) yang mengatasnamakan diri Brigade Muslim Indonesia atau BMI memicu banyak reaksi, terlebih dari kalangan pegiat literasi.

Tak terkecuali sastrawan di kabupaten Bantaeng, Muhammad Siddiq, menilai bahwa razia buku yang dilakukan di gramedia TSM Makassar beberapa waktu lalu itu, sangatlah tidak memberikan contoh baik, terlebih di era perkembangan ilmu pengetahuan yang kini kian pesat.

Mahasiswa jurusan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Makassar ini menilai masyarakat kekinian sudah cerdas untuk menyaring pengetahuan.

“Saya pikir masyarakat sudah paham dan tahu menempatkan diri dalam hal berbagi pengetahuan, soal razia buku kiri ini, seharusnya kita tidak lagi terbuai romantisme lama akan keburukan dan kekejaman paham yang beraliran kiri. Lagipula, Marxis pada masanya adalah seorang filsuf, seorang ekonom yang membawa revolusi bagi kaum proletarian atau rakyat miskin. Nah ini perlu dibedah, apakah kita menempatkan diri sebagai orang yang bangga diperalat oleh kaum penganut paham kapital blok barat atau bangkit melawan demi tercapainya tujuan sila kelima yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia? Bung Karno, sang proklamator juga pernah dekat dengan Marxisme Lho,” kata dia, Senin, 5 Agustus 2019.

Dia pun ikut mengecam tindakan itu, baginya, razia tersebut adalah upaya menenggelamkan ilmu pengetahuan. Sebab, buku-buku Marxisme-Leninisme bisa digunakan untuk kepentingan kajian, penelitian bahkan diskusi yang tentunya demi tujuan akademik.

“Meski ormas tersebut berdalih razia itu berdasarkan Ketetapan MPR, namun saya pikir kita perlu mengkajinya, bahwa ada disebutkan, demi kepentingan ilmiah dapat dilakukan secara terpimpin, artinya tidak ada larangan tapi tetap saja ada batasan. Seharusnya ormas paham bahwa tidak seharusnya mereka melarang penjualan atau mebredel penerbitan buku-buku itu,” akunya.

Terpisah, Zulhan Yusuf daeng Litere, sebagai CEO Boetta Ilmu yang kerap bergelut dengan agenda-agenda literasi, seperti kajian ilmu pengetahuan tentang bacaan, menyayangkan kegiatan razia buku itu.

Baginya satu kelompok yang notabene merupakan orang-orang berpengetahuan, namun melakukan hal-hal semacam pembungkaman terhadap bacaan itu tidak dibenarkan.

“Itu tidak benar, apalagi kalau dilakukan sekelompok orang-orang berilmu,” ujar Sulhan dalam sambungan telepon.

Diketahui razia buku tersebut dilakukan di Gramedia Trans Studio Mall Makassar dengan dasar untuk menghentikan penyebaran paham “kiri”, atau lebih spesifik pada penyebaran doktrinasi buku yang menganut paham Marxisme-Leninisme dan paham Komunis.

Bermodalkan Tap MPRS Nomor XXV 1966 tentang pembubaran Partai Komunis Indonesia dan juga pelarangan ajaran atau doktrin bermuatan Komunisme atau Marxisme dan Leninisme, ormas tersebut “gagah-gagahan” menyita semua buku-buku yang terindikasi beraliran kiri.

Akan tetapi tetap saja, bagi Sulhan razia buku merupakan cara yang keliru. “Kalau tidak sepaham, ya buatlah buku,” kata dia.

Menurut Sulhan, apabila ada pengetahuan yang diperoleh melalui buku dan menjadi sebuah dasar pemikiran, maka harus dilawan dengan pengetahuan lain dalam bentuk buku pula.

Ia menginginkan agar tidak segampang itu razia buku dilakukan, tapi alangkah lebih baik jika dibuat buku lain yang membahas tentang hal-hal terkait, agar membentuk satu pengetahuan baru bagi pembaca.

“Bikin buku dong sebagai bentuk bantahan sehingga terjadi dialektika pengetahuan supaya pengetahuan bertambah,” ujarnya memperjelas.

Dirinya juga menganggap bahwa aksi tersebut hanyalah menghambat, bahkan mematikan perkembangan ilmu pengetahuan di nusantara. “Kalau dilarang (membaca buku) sama saja menghentikan pengetahuan,” kata penulis buku Pesona Sari Diri ini.

Komentar

News Feed