oleh

RRI Sebagai Ensiklopedi Budaya Keindonesiaan

Oleh Rusdin Tompo
(Wakil Ketua Pengurus Pusat Forum Komunikasi Pemerhati (FKP) RRI,
Ketua KPID Sulawesi Selatan, periode 2011-2014)

Matarakyatmu | Sejak Februari 2018, Radio Republik Indonesia (RRI) melakukan redesign Programa 4 (Pro4) agar lebih dekat kepada generasi milenial. Sebelum ini, Pro4 merupakan pusat siaran budaya dan pendidikan masyarakat. Setelah redesign, RRI Pro4 memiliki tagline baru sebagai “Ensiklopedi Budaya Keindonesiaan”. Hal ini mempertegas peran RRI sebagai pelestari budaya bangsa yang tak henti menyelenggaran siaran seni dan budaya daerah di seluruh Indonesia. Sudah semestinya jika RRI dituntut mampu menerjemahkan secara konkret prinsipnya sebagai Lembaga Penyiaran Publik (LPP) yang hadir untuk semua warga negara, merefleksikan keberagaman, mencerminkan identitas bangsa dan sebagai rumah bersama yang mempererat dan mempersatukan.

Perkuat Positioning

Redesign Pro4 sebagai “Ensiklopedi Budaya Keindonesiaan” memperkuat positioning saluran ini sebagai radio budaya. Artinya, keseluruhan programa siarannya bermuatan dan tentang budaya, baik dalam bentuk siaran pendidikan, berita dan informasi, iklan layanan masyarakat (ILM), maupun dalam format program lainnya. Hasil keputusan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) RRI 2017 ini tentu diwarnai spirit sejarah kehadiran radio di Tanah Air sebagai alat perjuangan, sebagai medium literasi budaya untuk memperkuat identitas keindonesiaa.

Pada fase awal, atau tepatnya di tahun 1937, sejumlah radio yang berorientasi seni dan budaya daerah mengkonsolidasikan diri dengan membentuk Perikatan Perkumpulan Radio Ketimuran (PPRK). Radio-radio partikelir itu didirikan dan dikelola oleh warga pribumi dengan melibatkan orang-orang keturunan Tionghoa. Isi siaran radio-radio tersebut berupa seni tradisional yang mengarah pada penguatan identitas lokal guna menggelorakan nasionalisme.

Dengan karakter siaran seperti itu maka mereka menamakan dirinya sebagai radio ketimuran, lantaran siarannya merupakan antitesa dari radio NIROM (Netherlandsche-Indische Radio Omroep Maataschaappij) yang kebarat-kabaratan (Wirawan, 2011). NIROM merupakan badan usaha yang pada tahun 1934 memiliki izin resmi untuk menyelenggarakan siaran atas nama pemerintah Hindia Belanda. Sehingga wajar jika warna kolonial mewarnai siaran-siarannya.

Kita memang tak lagi hidup di zaman kolonial, tapi dalam kehidupan global juga terjadi pertarungan budaya yang tidak kalah hebatnya dibanding peperangan fisik. Berbarengan dengan kemajuan teknologi komunikasi informasi, masuk pula pengaruh budaya luar melalui industri film, fesyen, musik, makanan, buku dan bahan bacaan serta berbagai budaya populer lainnya. Fenomena gelombang budaya K-Pop dari negeri ginseng yang bahkan mampu menembus pasar Amerika Serikat adalah contoh dan buktinya. Internasionalisasi budaya yang saling mendominasi dan saling menegasikan merupakan keniscayaan di abad digital sekarang.

Kita tak mungkin hanya mengeluhkan pengaruh budaya Barat/Eropa, budaya India, China, dan budaya-budaya lain yang menghinggapi generasi muda kita, jika tidak segera mengambil langkah antisipatif. Karena itu, dalam sebuah pertemuan Forum Komunikasi Pemerhati (FKP) RRI, di tahun 2017, penulis menggugah sekaligus melakukan otokritik terhadap RRI yang lebih memfokuskan siaran-siaran budaya Pro4 untuk orang-orangtua, bahkan cenderung manula.

Padahal problem budaya, justru terjadi pada bagaimana mentransmisikan nilai-nilai budaya itu pada anak-anak kita. RRI yang kekinian harus mampu memadukan siarannya secara inovatif, kreatif, partisipastif, interaktif, dan atraktif secara on air, on line, dan on land, meminjam istilah teman-teman di KNRP (Koalisi Nasional untuk Reformasi Penyiaran).

Roadmap dan Pemetaan

Cita-cita RRI yang akan menjadikan Pro4 sebagai “Ensiklopedi Budaya Keindonesiaan” perlu didukung semua pemangku kepentingan. RRI mustahil bisa menjadi radio pintar, kamus udara, pustaka audio dan pustaka digital tanpa campur suara banyak pihak. Setelah launching di Jakarta, perlu ada semacam time line, berapa lama (periode, jika merujuk pada periodesasi direksi) upaya menjadikan RRI sebagai “Ensiklopedi Budaya Keindonesiaan” akan terwujud.

Mengapa ini penting? Karena sedemikian luasnya cakupan yang hendak dimasukkan sebagai budaya keindonesiaan itu. Sebagaimana dalam konsep redesign disebutkan bahwa keindonesiaan, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berarti perihal Indonesia atau yang bersangkut paut dengan Indonesia.
Deskripsi program yang diharapkan akan membantu menerjemahkan konsep budaya ke dalam program biar lebih mudah itu, rasa-rasanya juga belum cukup memadai.

Dalam petunjuk pelaksanaan, dengan mengutip Koentjaraningrat (2005 dan 2014), dinyatakan ada tujuh unsur kebudayaan universal, yang mencakup: (1) bahasa, (2) sistem pengetahuan, (3) organisasi sosial, (4) sistem peralatan hidup dan teknologi, (5) sistem mata pencaharian, (6) sistem religi, dan (7) kesenian.

Menurut hemat penulis, ketujuh unsur kebudayaan universal ini masih perlu didata dan dipetakan pada setiap stasiun RRI dengan stakeholder di daerah masing-masing. Misalnya, terkait bahasa; bahasa-bahasa apa saja yang ada di daerah itu, persebarannya, mana yang penuturnya bisa diajak bersiaran, dan mana yang terancam punah.

Dengan demikian, diperlukan sebuah roadmap (peta jalan) yang bisa dimulai dari pendataan, pemetaan, penyusunan skala prioritas, hingga pembuatan rancangan program yang cocok sesuai segmen yang dituju. Karena tentu, dari segi programing dan kemasan, ada program yang lebih menarik jika menghadirkannya dalam bentuk pertunjukan live, ada yang dalam bentuk features, obrolan, talk show, variety show, dan lain-lain.

Termasuk apakah RRI akan melakukan dengan sumberdaya sendiri atau melibatkan pihat lain, dalam hal ini dukungan pakar, praktisi, komunitas-komunitas, termasuk pelibatan BUMN, BUMD, dan dunia usaha melalui dana CSR (corporate social responsibility).(*)

Komentar

News Feed