oleh

Kabag Kesra Wakili Bupati Membuka Lomba Antar Ponpes se Bulukumba di Sawere

MATARAKYATMU.- Menyambut hari Santri Nasional tingkat Kabupaten Bulukumba yang puncaknya pada 22 Oktober 2019 mendatang, Jumat (27/9) berlangsung berbagai lomba antar pondok pesantren ( Ponpes ) se Kabupaten Bulukumba, di pusatkan di Ponpes DDI Baburridha Sawere Kecamatan Gantarang dan puncak peringatan Hari Santri Nasional akan dilaksanakan di Lapangan Pemuda Bulukumba, 22 Oktober 2019.

Kegiatan tersebut dibuka Bupati Bulukumba diwakili Kabag Kesra Hj.Darmawati, diawali pengalungan sarung oleh salah seorang santri kepada Hj Darmawati dan H.Muh.Yunus.
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Kemenag diwakili KTU H.Muh.Yunus, Kasi Pontren Kemenag Bulukumba Hj.Hartati Yunus, Kapolsek Gantarang, serta para pimpinan dan pembina Ponpes se Kabupaten Bulukumba

Bupati Bulukumba melalui Kabag Kesra pada sambutannya menyambut baik kegiatan tersebut, sekaligus mengapresiasi apa yang telah dilakukan panitia pelaksana.
Sebelumnya, Kabag Kesra Hj.Darmawati menyampaikan permohonan maaf Bupati Andi Sukri A.Sappewali yang sedianya akan hadir pada kegiatan ini, namun karena ada kegiatan yang tak kalah pentingnya, sehingga mewakilkan kepadanya untuk menghadiri sekaligus membuka acara ini.

Disampaikan, pada prinsipnya Pemkab Bulukumba dibawah pimpinan Bupati dan Wakil Bupati Bulukumba, peduli terhadap kegiatan keagamaan, termasuk kegiatan yang dilaksanakan oleh Pondok Pesantren. ” Kalau tahun ini yang dilombakan
hanya empat jenis lomba, kami berharap tahun tahun mendatang, jenis lomba dan pesertanya lebih ditingkatkan lagi jenisnya,” harap Bupati seperti disampaikan Kabag Kesra Hj.Darmawati.

Pada kesempatan itu, Darmawati juga menyampaikan, keberadaan pondok pesantren sebagai tempat membina generasi muda sedini mungkin, khususnya pendidikan keagamaan. ” Melalui Pondok Pesantren, tentunya kami berharap anak anak kita sejak dini ditempa dengan ilmu agama, sebagai benteng dalam menghadapi era informasi yang semakin terbuka, sekaligus sebagai generasi pelanjut pembangunan,” kata Darmawati memiliki Bupati.

Dan menurut Darmawati, Pesantren bukan hanya diartikan sebagai lembaga pendidikan keislaman semata, tetapi memiliki peran sebagai lembaga dakwah dan Pemberdayaan masyarakat.

Sebelumnya Kepala Kemenag diwakili KTU H.Muh.Yunus memaparkan bahwa keberadaan RUU Pesantren merupakan pengakuan negara terhadap lembaga Pesantren, yang merupakan lembaga Pendidikan, Dakwah, dan Pemberdayaan masyarakat yang memiliki nilai historis berbasis masyarakat.

Dalam RUU Pesantren tersebut, kata H.Yunus, menegaskan tentang keberadaan Pesantren sebagai lembaga yang mandiri dan memiliki ciri khas tersendiri sebagai institusi yang menanamkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Selain itu, menyemaikan akhlak mulia serta memegang teguh ajaran Islam rahmatanlilalamin yang tercermin dari sikap rendah hati, toleran, moderat, dan nilai-nilai luhur bangsa lainnya dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dan proses pembelajaran Pesantren yang memiliki ciri pembelajaran yang khas, ijazah kelulusannya memiliki kesetaraan dengan lembaga formal lainnya dengan tetap memenuhi jaminan mutu pendidikan.

Selanjutnya, untuk memenuhi kualitas pendidikan di Pesantren harus memiliki institusi yang dinamakan Dewan Masyayikh yang terdiri atas para Kiai dan Ustaz atau sebutan lainnya.

Dan terakhir, kata H. Yunus, sumber pendanaan pesantren yang selama ini bersumber dari masyarakat, dalam RUU ini ditegaskan dapat berasal dari APBN dan APBD sesuai dengan kemampuan keuangan negara.- Suaedy.-

Komentar

News Feed