oleh

“Ritus A’Mata-mata Benteng” Lembaga Adat Gallarrang Tonasa Takalar SulSel

 

Matarakyatmu, Takalar | Ritus A’mata-mata Benteng adalah salah satu dari sejumlah rangkaian kegiatan budaya yang masih eksis dalam budaya Makassar terlebih lagi pada pembangunan Rumah kayu baik untuk kalangan Rakyat biasa, terutama Rumah Adat.

Seperti halnya yang dilakukan oleh Lembaga Adat Gallarrang Tonasa pada pembangunan Baruga Kr.Pepeya Tonasa Sanrobone Kab.Takalar beberapa waktu yang lalu di Desa Tonasa Takalar.

Prosesi Ritus yang diselenggarakan pada malam hari yang ditentukan waktu terbaik, diawali dengan Appabattu Paddoangang (pembacaan Doa) oleh pemuka agama dengan sejumlah sajian yang digelar dengan syarat makna untuk keselamatan dan kebahagiaan pemanfaatannya, dan agar mendapatkan berkah Yang Maha Kuasa, sekaligus permohonan ijin kepada para leluhur, sajian itu antara lain seperti umba-umba, songkolo putih dan hitam, pisang raja, pinang, dan lain sebagainya, yang kesemuanya itu mengandung makna dan harapan keselamatan, seperti penjelasan Ir. Hamin Mustafa Daeng Nyanrang selaku Pemangku Adat Gallarrang Tonasa Sanrobone Kab.Takalar

Setelah pemanjatan Doa oleh tokoh agama, selanjutnya kegiatan A’rate. A’rate ini sejenis kitab barzanji syairnya, namun nada dan intonasinya berbeda, meskipun moment pembacaraan saraka, yaitu dilakukannya kegiatan berdiri sama dengan pelaksanaan barsanji. Dalam moment ini, pihak keluarga menyematkan sedekah kepada para peserta a’rate.

Pelaksanaan Ritus A’rate terkadang sampai larut malam seperti halnya yang dilaksanakan pada pembangunan Baruga Kr.Pepeya Tonasa Sanrobone Takalar.

Bahwa pembangunan Baruga Kr.Pepeya Tonasa ini, lanjut dituturkan oleh Gallarrang Tonasa, adalah upaya untuk pelestarian dan pengembangan budaya yang faktanya hari ini semakin tergerus oleh laju modernisasi yang mendesak budaya-budaya lokal terpinggirkan oleh budaya modern yang belum teruji oleh waktu, bahkan kecenderungan materialisme, non-toleran dan memudarnya semangat gotong royong yang mulai sulit kita temui lagi terutama di daerah perkotaan yang sudah mulai terasa di pedesaan, hal ini karena informasi yang tak berjarak oleh handphone dan gadget kepada masyarakat sangat dahsyat, sementara peranti atau instrumen informasi yang dapat menjadi penyeimbang hampir dikatakan sama sekali tidak ada.

Kalau kita merujuk kepada data SUSENAS MSBP 2015 oleh BPS, dinyatakan bahwa hanya 6,49% anggota rumah tangga yang berusia 5 ke atas yang pernah mengunjungi peninggalan sejarah/warisan budaya dalam kurung satu tahun terakhir, namun lanjutnya kita khususnya komunitas adat patut bersyukur yang walaupun dibutuhkan rentang waktu yang cukup lama 35 tahun, sejak tahun 1982 dibahas tentang UU KEBUDAYAAN, akhir 27 April 2017 DPR akhirnya mensahkan UU No.5 Th 2017 tentang PEMAJUAN KEBUDAYAAN.

Dengan adanya produk UU ini, maka landasan hukum untuk bergerak maju sudah kita miliki, meskipun masih banyak PR yang harus kita selesaikan, baik sifatnya materil maupun non-materil, khususnya kepada sikap dan pola pikir masyarakat dan pemerintah pusat dan daerah yang betul-betul menyusun program yang mengakomodir keberadaan masyarakat adat dengan kebudayaannya, yang hari ini telah mulai diinventarisir keberadaannya.

Olehnya itu, lanjut Gallarrang Tonasa, pilkada ini hendaknya dapat menjadi momentum untuk kita mengenal lebih dekat, mana calon pemimpin kita yang betul-betul pro-budaya, mana yang hanya memanfaatkan jargon budaya untuk menarik popularitas semata, untuk itu perlu segera dilakukan kegiatan dialog dengan Piranti Zoom semua daerah pemilihan bupati/walikota di SulSel.(HMD/@ly)

Komentar

News Feed