oleh

Dugaan Penggelapan Anggaran PJU di Wasuponda, LPPMI Akan Laporkan Kepenegak Hukum

 

Matarakyatmu.com, Luwu Timur || Program Terpadu PT Vale, Tbk berupa pemasangan lampu jalan di Kec. Wasuponda melalui Program Pengembangan Masyarakat atau PTPM dengan jumlah angggaran sebesar Rp.150.000.000 (Seratus Lima Puluh Juta Rupiah) yang diduga kuat digelapkan menemui babak baru, pasalnya tanggapan pihak pelaksana melalui camat wasuponda (Joni Patabi) dan pekerja serta pendamping program (Kamaruddin B dan Adolfina Sambo) menuai tanda tanya.

Jika dalam rencana pengerjaan Penerangan Jalan Umum (PJU) tersebut rencana awal harus menggunakan tenaga surya dan tiang sendiri namun fakta dilapangan jauh dari perencanaan, sehingga diduga kuat pengerjaan PJU tersebut disinyalir digagahi oknum yang tidak bertanggung jawab.

Menurut Adolfina Sambo selaku pendamping program bahwa jika merujuk pada RAB yang disepakatinya maka program tersebut dianggarkan Rp. 15.000.000 (Lima Belas Juta Rupiah)/item, sehingga menurutnya anggaran 15 juta tersebut diperuntukkan untuk 10 item pengerjaan

“Di RAB yang kami buat memang lampu tenaga surya jumlahnya 10 buah (15.000.000) jadi total 150jt. Tapi tahap 1 ternyata hanya 8 dan bukan tenaga surya. Dengan pertimbangan katanya kalau tenaga surya hanya sedikit titik yang terang dan lihat lampunya, makanya tahap 2 saya minta itu diperbaiki, kalaupun lampu biasa yang nyantol ke tiang, jumlahnya harus bertambah. Karena saat rapat masyakat minta penerangan d├Čbeberapa titik, Yang tahap 2 ini yg belum sepenuhnya di penuhi oleh pelaksana kegiatan,” ungkapnya.

Adol membantah pernyataan pihak pekerja (Kamaruddin) yang menyebutkan bahwa pencairan uang melalui rekening bendahara kecamatan seperti pernyataan yang ditulis diberita sebelumnya karna menurut mekanisme yang dia pahami bahwa dana bantuan dari pihak PT Vale tersebut masuk ke rekening Forum lintas pelaku PMDM kecamatan Wasuponda.

” Dana dicairkan PT vale ke rekening Forum lintas pelaku (semuel sebagai ketua), FLP yg mencari penyedia layanan/pelaksana kegiatan. Lalu FLP menyerahkan dana secara cash ke PL/PK. Setelah pekerjaan selesai FLP meminta pertanggungjawaban PL/Pk dan melaporkan penggunaan dananya untuk pencairan dana tahap 2 nya.” Lanjutnya

Lebih lanjut Adol mengatakan , “Tahap 2 selaku PL memang Elva yang tanda tangan, saya tidak tahu apakah ditahap 2 juga pak Kama masih dilibatkan atau tidak, hanya tahap 1 yang saya tahu pak Kama yang PL, sekaligus yang pasang lampu, bahkan saya sempat tanya berapa harga lampu sebenarnya dan berapa biaya pasang tapi pak Kama tidak memberi informasi itu ke saya, Klo mau diprosesmi dipolres nanti saya kasih tahu pak Semuel dia siapkan semua dokumennya karena mereka yang pertama itu dimintai pertanggung jawaban,” Kunci Adol

Terpisah pihak pelaksana camat wasuponda (Joni Patabi) yang dihubungi awak media ini enggan memberikan keterangan yang pasti dan terkesan menunjuk pihak PT Vale sebagai penanggung jawab program.

” Tabe, terkait itu kita konfirmasi ke Vale lah, progresnya ada, semua dikerja itu pak, artinya tabe ini, saya beberapa hari ini diserang terus terkait it, dan saya bingung apa oriontasinya sehingga saya diserang terus,” ucap Joni Patabi.

Sementara Kamaruddin Pihak yang melakukan pengerjaan dan ahli dibidang tersebut membeberkan bahwa,” Paling banyak yang dibelanja untuk tiap aitem itu paling besar 1.800.000 (Satu Juta Delapan Ratus Ribu Rupiah) itu sudah terhitung untuk untuk materialnya seperti, Balon Lampu, Stand Lampu dan Lampu hias,” Imbuhnya

Lanjut kama,”yang saya tau untuk harga stand lampunya karna saya sendiri penyedianya itu diangka Rp. 150.000.00 (Seratus Limapuluh Ribu Rupiah), untuk balon lampu pihak kecamatan yang siapkan material, kalau yang lampu kotak itu harganya paling Rp. 1.200.00 dan yang dua mata itu harganya kisaran Rp.950.000 trus lampu hiasnya paling 150.000.00 atau 200.000.00, untuk masalah RABnya saya tidak tahu menahu karna mereka yang mainkan seperti apa sistemnya, awal perencanaan seharusnya menggunakan tenaga surya, saat saya disuruh kerja ternyata nyantol ditiang PLN dan sumber stromnya dari PLN juga, saya sendiri dibayar 200.000.00 per aitem untuk jasa.” Kuncinya

Jika pernyataan pijak pelaksana program biaya yang dihabiskan hanya diangka Rp.1.800.000 (Satu Juta Delapan Ratus Ribu Rupiah) satu unitnya, maka dana yang dihabiskan total dikisaran Rp. 25.200.000 (Duapuluh Lima Juta Dua Ratus Ribu Rupiah), berarti sisa anggaran diangka Rp.124.800.000 (Seratus Duapuluh Empat Juta delapan ratus ribu). Itu menuai tanda tanya karena anggaran tersebut telah dikucurkan pihak PT. Vale sejak tahun 2018 lalu, menyikapi hal ini Arsyad selaku tokoh Lembaga Pemerhati dan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia (LPPMI) akan segera mengadukan hal ini ke pihak penegak hukum untuk segera ditindak lanjuti.

” Ini hak masyarakat, maka masyarakat sebagai penerima manfaat wajib mengadukan jika apa yang menjadi haknya diduga kuat digelapkan oleh pihak pelaksana, apalagi ini menyeret nama oknum camat.” Ungkapnya. (**)

Komentar

News Feed