oleh

Kepala KUA Ujungbulu Nikahkan Warga Tanpa Biaya, Begini Penjelasannya

MATARAKYATMU.- Pernikahan dalam Islam adalah sebuah perkara yang agung. Didalamnya dikumpulkan dua individu berbeda, pria dan wanita yang semula haram berhubungan intim menjadi dihalalkan, hubungan yang tentunya menjadi sesuai syarat-syarat syar’i.

Demikian juga perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu serta tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku (Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 2 ayat 1 dan 2).

Demikian yang disampaikan oleh Penghulu Madya Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Ujung Bulu Kab.Bulukumba, H. M. Ansar Mahdy, S.Ag, saat memberikan nasehatnya kepada calon pasangan suami isteri, Isham Bin Nurdin dari Kec. Kajang dengan Nurifah Binti Syarifuddin dari Kel. Ela-ela pada hari Ahad, 28 Februari 2021 Pukul 14.00 WITA di Balai Nikah KUA Kecamatan Ujung Bulu Kab. Bulukumba.

“Pelaksanaan akad nikah di Balai Nikah menjadi terobosan baru pelayanan Nikah pada Kantor Urusan Agama ( KUA) , yang menetapkan adanya Nikah Gratis, tanpa harus membayar sepeserpun. Hal ini merupakan regulasi Peraturan Pemerintah Nomor 48 tahun 2014 tentang tarif atas penerimaan negara bukan pajak,” jelas Ansar Mahdy.

Menurutnya, inti dari Peraturan Pemerintah Nomor 48 tahun 2014, mengajak masyarakat untuk mendaftarkan langsung pernikahan mereka tanpa melalui perantara ke KUA, sekaligus mengajak masyarakat untuk melangsungkan pernikahan mereka di Balai Nikah pada hari kerja Senin sampai Jumat pada jam kerja yaitu pukul 07.30 s/d 16.00 WIB dan khusus hari Jumat dari pukul 07.30 s/d 16.30 tanpa harus membayar atau gratis.

“Namun peraturan ini juga tidak menafikan adanya keinginan masyarakat untuk melangsungkan pernikahan mereka di luar Balai Nikah dengan alasan-alasan tertentu, dengan ketentuan, mereka di wajibkan membayar PNBP Biaya Nikah Rujuk sebesar Rp. 600.000,- langsung ke Bank ( BRI, BNI dan POS),” jelasnya

Dijelaskan, pendamping dari PP Nomor 48 Tahun 2014 adanya PMA No 11 tahun 2007 yang mengatur bahwa akad nikah hanya dilaksanakan dibalai nikah, atas persetujuan Kepala KUA (PPN) akad nikah boleh dilaksanakan diluar balai nikah. Kepala KUA juga menyatakan bahwa nikah dibalai nikah sebenarnya sangat praktis ketimbang akad diluar balai nikah (rumah). Bedanya hanya tempat dan biayanya saja.

” Ketika masing-masing calon pengantin mendapatkan surat-surat keterangan yang berhubungan dengan pencatatan nikah (Model N1, N2 dan N4) dari kelurahan, kemudian diserahkan ke KUA untuk diadakan pemeriksaan lebih lanjut sepuluh hari sebelum akad nikah. Setelah diadakan pemeriksaan dan tidak ada halangan lagi untuk pelaksanaan akad nikah terhadap catin, maka ijab-qabul dilaksanakan oleh wali dihadapan PPN, Penghulu dan dua orang saksi.

” Nah beberapa saat kemudian setelah akad nikah selesai, maka Kepala KUA dan Penghulu menyerahkan buku nikah kepada pasangan suami istri,” sebutnya.

Menurutnya lagi, pernikahan di Balai nikah sudah mulai mentradisi oleh masyarakat dan harapan dia semoga masyarakat tidak lagi merasa malu, karena dianggap ada masalah kalau menikah di KUA juga menikah di Balai nikah pada hari dan jam Kantor biayanya Rp. 0.

Dan di KUA sudah disiapkan lamming pengantin untuk tempat ijab qabul, setelah menikah baru mereka pulang kerumahnya pesta dan menerima tamu.

” Harapan kami kepada kedua mempelai semoga pernikahannya langgeng dan senantiasa berbahagia bersama pasangan halalnya,” katanya.

Ansar menambahkan, pernikahan yang dilaksanakan di kantor KUA Ujung Bulu dengan mematuhi protokol Kesehaan pencegahan Covid-19 sesuai panduan dari Kementerian Agama, yaitu jumlah orang yang berkumpul tidak boleh lebih dari 10 orang dan pengantin harus  menggunakan masker.-(*)

Komentar

News Feed